Minggu, 12 Februari 2017

Be Enchanted 2

BAB DUA


`              Note...Pulpen...Pensil...Perekam suara. Apalagi ya....Ah, Hp !

                Adel sedang menjejerkan semua barang yang akan dibawanya di atas kasurnya. Tidak boleh ada satu pun barang yang tertinggal, itulah mottonya. Lalu, setelah ia rasa semua barang yang dibutuhkannya lengkap langsung saja ia memasukkannya ke dalam tas ranselnya.

`              Dan hampir saja, ia melupakan satu barang yang paling penting kalau ia tidak menge-check kembali meja belajarnya. Power bank. Camkan kalau benda itu yang paling MUTLAK harus ada di dalam tasnya. Terutama disaat-saat ia dalam keadaan kepepet dan baterai Hp nya tertera angka 5%. Uh, itu posisi paling mengerikan...

                “Oma....Adel pergi dulu ya” pamitnya seraya mencomot roti selai kacang yang tersedia di atas piringnya lalu meneguk setengah segelas susu putih disamping piringnya.

                “Heh, Adel. Makan dulu sini” cegah Oma, melihat cucu nya itu yang sedang terburu-buru.

                “Maaf Oma. Tapi Adel udah telat nih. Bye Oma”. Telat. Adel sudah duluan melambaikan tangannya pergi sebelum Oma Linda sempat mencegahnya lagi. Oma Linda hanya geleng-geleng kepala di kursinya, tahu kelakukan cucunya itu tidak pernah berubah sama sekali. Tapi biarpun begitu, Oma Linda tidak pernah memarahi sikap Adel yang selebor gitu. Baginya Adel adalah cucu satu-satunya sekaligus kesayangannya.

                Di depan pintu pagar,Adel berdiri menunggu taxi online yang sudah di pesannya tadi sambil mengunyah roti selai kacangnya.  

.......

                Di dalam taxi, ia sedang membuka isi note nya. Memeriksa ulang daftar pertanyaan yang akan diajukannya nanti. Entah kenapa sekarang ia malah merasa gugup. Dan juga kedua tangannya berubah dingin. Tapi bukannya itu wajar, pasalnya ia kan bukan seorang wartawan. Sebagai editor majalah, ia sama sekali tidak pernah bertugas mewancarai seseorang. Ia terbiasa bekerja di balik meja dan kalau bukan Sandra, bos nya yang juga sahabatnya memintanya menggantikan Putri. Pasti ia tidak akan pernah mau menerima job ini.  

                “Nama gue Adela Putri Wijaya. Dan sebentar lagi gue bakal wawancarain seorang model yang lagi tenar. Namanya Nathaniel Refando. Gue sih nggak begitu tahu orangnya kayak gimana. Tapi banyak yang bilang kalau dia itu ganteng banget sampai bisa buat jantung setiap cewek deg-deg an. Gue jadi udah nggak sabar pengen ketemu sama dia. Apa bener sih dia kayak yang di bilang semua orang?” batinnya.

                List panjang di lembar note nya ke lima memang bukan ia yang menulis. Tapi si Putri. Dari awal Adel sudah menyetujui ia akan menggantikannya, tapi ia tidak ingin berurusan dengan menulis daftar pertanyaan ini. Ia hanya ingin tinggal mengajukan pertanyaannya saja. Dan untungnya Putri dan Sandra menyetujuinya. Beberapa jam sebelum keberangkatannya, Putri mengirim list question lewat chat dan setelah itu Adel tinggal menyalinnya ulang di lembar note nya.  

                Adel tahu betul alasan kenapa perusahannya memilih model itu untuk di wawancarai. Dari yang Adel dengar dari Sandra dan Putri, model itu sedang booming, wajahnya tampan dan belakangan ini ia juga sedang di kontrak berbagai macam iklan. Tapi yang membuatnya tidak habis pikir adalah pertanyaan di nomor delapan. Si Putri menulis pertanyaan yang menanyakan masalah pribadi si model, ‘apa kamu sudah memiliki seorang pacar sekarang atau kamu sedang dekat dengan seseorang?’. Adel mendengus pelan membacanya. Bagimana bisa Putri menyuruhnya mengajukan pertanyaan seperti ini. Biarpun ia seorang model, ia kan juga mempunyai privasi.

                “Sudah sampai Mbak” seruan si supir taxi membuat Adel terhenyak lalu mengalihkan pandangannya sebentar keluar jendela dan detik itu ia baru menyadari kalau sekitarnya bukan lagi gedung bertingkat tapi kompleks perumahan elite.

                Selesai membayar uang Taxi, Adel pun perlahan turun. Ia berdiri sebentar memandangi rumah di hadapanya. Satu kata di pikirannya yaitu rumah begitu minimalis dengan cat putih nya. Tapi ia belum tahu seperti apa di dalamnya. Kadang don’t judge by the cover itu memang perlu. Setelah melewati pintu pagar, dirinya bertemu dengan taman kecil –di sebelah kiri-yang ditengahnya terdapat kolam ikan. Adel sempat melongok, memeriksa ikan-ikan itu berwarna apa sebelum akhirnya ia sudah berdiri di depan pintu rumah itu.

                Sebelum ia mengetuk pintu, Dua menit ia pakai untuk seledar merapikan apa yang membaluti tubuhnya. Ditariknya jaket hijau untanya sampai sikut. Dirapikannya rambut cokelat tua nya yang hari ini ia kuncir ke atas. Entahlah, apakah yang dilakukannya ini penting atau tidak tapi ia ingin tampak rapih di depan model itu –bukan untuk ajang caper tapi PROFESIONALITAS.

                Tok....Tok...Tok....tiga kali ia mengetuk pintu ber-cat senada dengan dindingnya. Tapi tidak juga ada orang yang membukakannya setelahnya. Sekali lagi ia mengetuk, dengan ritme lebih keras. Namun, harapannya luntur. Detik berikutnya, ia merutuki diri sendiri tatkala matanya melihat bel di atas kanannya.  Ah sial. Setelahnya, ia memencet bel itu. Bunyinya begitu nyaring. Tapi hal itu tidak membuat si pemilik rumah membukakannya pintu.  Apa dia lagi pergi ya, batinnya.

                Karena penasaran, Adel pun menempelkan kedua matanya melihat suasana dalam rumah dari balik celah korden yang sedikit tersingkap. Tampak sepi. Sampai akhirnya ia pun menempelkan telinga kanannya di depan pintu. Mungkin saja ia bisa mendengar suara-suara keberadaan si pemilik. Tapi di detik berikutnya, tiba-tiba pintu itu terbuka. Spontan Adel pun terhuyung ke samping. Dan ia sudah bersiap kemungkinan terburuk. Terantuk lantai. Tapi anehnya tubuh dan kepalanya tidak sakit karena terantuk lantai. Malahan ia merasa tubuhnya sekarang begitu enteng. Sontak saja, ia mengangkat kepalanya pelan dan mendapati wajah tampan yang berkeringat. Dan setelahnya, Adel membulatkan mata shock kala didapatinya tangan kekar tengah menahan badannya. Refleks secepat kilat, Adel menegakkan badannya lagi  dan menyingkir cepat.

.......

                “Maaf, tapi aku udah ada janji dengan Nathan. Mendingan kamu panggil dia cepetan ya” kata Adel ketika pria itu menggiringnya masuk ke ruang tengah. Jujur, ternyata don’t judge by the cover itu betul. Begitu Adel digiring masuk oleh pria itu, dalam rumah ini berbanding terbalik dengan ekpekastasi rumah yang minimalis. Ruang tamunya begitu LUAS. Dan ada banyak lukisan abstrak di dindingnya.

                Bukannya balas menjawab. Pria itu malah tertawa. “Kamu pasti si Adel itu kan. Yang mau wawancarain saya”

                Adel menatap tajam pria itu. “Iya. Trus kenapa kamu ketawa gitu. Emang aku salah apa” katanya sedikit ketus seraya menaruh sebelah tangannya di pinggang.  

                “Hey, saya ini yang mau di wawancarain kamu. Saya NATHAN” sahut Pria itu dengan penekanan di akhir kata dan tatapan serius.  

                Adel menautkan kedua alisnya samar, memanyunkan bibirnya, memandang pria itu dari atas sampai bawah. Kalau di perhatikan baik-baik, mana ada seorang model yang berpenampilan begitu. Bagaimana bisa ia percaya kalau pria itu saja mengenakan celemek dapur berwarna pink polkadot, bando pink yang membuat rambut depannya tersisir kebelakang serta kaos putih yang ada noda bekas minyak, kecap dan mungkin juga...saos yang berwarna merah itu.

                Menangkap keraguan di wajah gadis itu. Pria itu pun membalikkan badan ke rak setinggi dua meter di belakangnya. Diambilnya foto miliknya di rak kedua dari atas lalu berbalik kembali menghadap Adel sambil mensejajarkannya tepat di samping wajahnya, meniru gaya di foto itu –yang tengah tersenyum- sekalian menyuruh gadis itu melihat baik-baik kesamaan di foto dengan pria itu.  

                Selang beberapa detik kemudian, Adel tampak mengangguk-angguk pelan. “Sepertinya kamu memang Nathan” gumamnya pelan. Namun, pria itu bisa mendengar ucapannya jelas dan langsung berkata.  “Aku memang Nathan tahu”

                “Oke. Aku percaya. Kalau gitu ayo kita mulai” Adel menepuk kedua tangannya, sebagai tanda memulai wawancara. Ia kemudian berpindah duduk di sofa panjang dan mengambil note, pulpen dan perekam suara di tasnya. Setelah itu, ia menaruh perekam suara itu ke atas meja. Memegang pulpen di tangan kanannya dan note dengan lembaran kosong di pangkuannya. “Jadi...” Adel memandang Nathan yang masih berdiri diam di tempatnya. Ia mengingatkan Nathan untuk duduk.  Tapi tanpa berkata apapun, Nathan malah berjalan ke belakang.

                Lalu, tak lama Nathan kembali dengan wajah yang lebih fress. Kaosnya pun sudah berganti. Tidak ada lagi noda minyak, kecap ataupun saus. Sekarang penampilannya sudah meyakinkan gadis itu kalau ia memang seorang model. Dengan kaos hitam pendek dan tatanan rambut yang sepertinya sudah ia rapikan tadi.

........

                “Udah nggak ada pertanyaan lagi?” tanya Nathan memastikan, ia tidak ingin setelah ini gadis itu menghubunginya lagi karena lupa ada pertanyaan yang belum diajukannya seperti yang pernah dialaminya sebelum-sebelumnya.

                Adel menggeleng. “Sudah cukup. Baiklah. Terimakasih atas kerja samanya”. Adel menyunggingkan senyum singkat sebelum ia beranjak dari sofa. Tapi saat ia sudah berbalik, tiba-tiba Nathan memanggilnya. Adel pun berbalik menghadapnya. “Apa kita sebelumnya pernah bertemu?” tanya Nathan seraya memandang baik-baik wajah gadis itu.

                Adel menautkan kedua alisnya samar, tanda ia sedang berpikir. Detik berikutnya, ia menggelengkan. Setelahnya, Nathan hanya meng-oh-ria kan lalu mengantar gadis itu sampai ke pintu pagar. Setelah, memastikan Adel sudah naik taxi. Nathan pun menutup pintu pagarnya dan kembali masuk ke dalam. Ia berjalan menaiki anak tangga dan sampai di dalam kamarnya. Tepat disaat itu, deringan lagu Don’t wanna know –Marron V terdengar. Cepat-cepat ia meraih Hp nya di atas meja nakas yang tertera di layarnya nama si penelfon yang dikenalinya itu. Bang Rendi. Nathan mengambil duduk di pinggiran kasurnya sebelum ia mengangkat panggilan itu.

                “Hallo....Oh iya Bang. Sip. Oh sekarang? Oke deh”. Panggilan  itu diputus sepihak olehnya. Kemudian, ia beranjak bangkit, mengambil handuk lalu berjalan ke kamar mandi.

..........

                Sebelum pulang, Adel mampir dulu di Cafe langganannya. Sudah lama ia tidak datang kemari dan tadi ketika taxi yang di tumpanginya lewat di depannya, ia menyuruh si supir taxi berhenti di dekat Cafe itu.

                Adel duduk di pinggir dekat jendela. Itu memudahkannya melihat langsung jalan raya yang cukup lengang di jam sepuluh-an. Sebelumnya, ia sudah memesan hot latte, minuman favoritnya. Jadi sekarang ia tinggal menunggu pesanannya datang.  Dalam keadaan begini memang cocoknya minum minuman yang panas seperti latte ditambah whip cream diatasnya. Maksud Adel dalam ‘keadaan begini’ itu, bukan karena di luar sedang di guyur hujan deras. Bahkan ia sangsi karena langit diluar begitu cerah dan panas. Tapi ia hanya sekedar merilekskan dirinya saja. Entah kenapa sepanjang ia melakukan sesi wawancara pada Nathan, ia begitu kagok dan hampir seperti orang bodoh disana.

                Bagaimana tidak, saat ia mengajukan pertanyaan nomor delapan. ‘apa kamu sudah memiliki seorang pacar sekarang atau kamu sedang dekat dengan seseorang?’’. Sontak saja ekspresi wajah Nathan berubah seketika. Yang tadinya ia tertawa karena habis melontarkan joke –yang tidak cukup lucu bagi Adel- setelahnya ia langsung terdiam. Dan mengatakan skip untuk pertanyaan itu. Dan ketika Adel sempat menyinggungnya di akhir mereka wawancara, pria itu cepat menyadarinya dan malah mengalihkan ke topik lain –dia bercerita soal masa kecilnya.

                Adel menjatuhkan kepalanya ke atas meja, menimbulkan suara antukan kecil yang tidak menarik perhatian para pengunjung Cafe. Ia menghembuskan napas berat. Sementara, otaknya berpikir keras tentang apa yang akan ia katakan pada Sandra ataupun Putri. Adel berani bertaruh seratus ribu kalau dari semua list question itu pertanyaan nomor delapan lah yang paling mereka inginkan. Dan sialnya, ia tidak mendapatkannya.

                “ Ini mbak hot latte pesanannya” seruan seorang pria berhasil membuatnya mengangkat sedikit kepalanya, menolah malas ke arah pria tinggi dengan celemek orange yang melingkar di badannya. Sontak Adel langsung menegapkan tubuhya lagi tatkala menyadari pria itu yang ternyata pramusaji membawakan pesanannya di sebelah tangannya.

                Adel mengucapkan terimakasih setelahnya. Sebelum pramusaji itu berlalu, ia sempat melihatnya mengulas senyum pada dirinya. Oh, apaan itu?

                Tapi Adel lebih memilih tidak ingin memikirkannya. Oh, kepalanya sungguh berdenyut. Hari kedua nya di kota ini sudah membuatnya kehabisan  energi dan lelah. Adel pun segera menyesap hot latte nya. Ada perasaan lega ketika cairan berwarna caramel itu sukses melewati kerongkongannya.


                Oh....It’s good.....

Be Enchanted 1


BAB SATU
           

                 Terhanyut aku akan nostalgia                

                 saat kita sering luangkan waktu                

                 nikmati bersama...                

                 suasana Jogja...


                Lantunan lagu dari KLA Project mengalun lembut di seluruh speaker Bandara Adi Sucipto, mengisyaratkan ucapan selamat datang yang di peruntukkan bagi para penumpang yang baru landing. Sebagian mereka yang merupakan turis asing setelah melewati pintu pemeriksaan berjalan lambat sambil mendecak senang karena merasa seperti di istimewakan –walau mereka tidak tahu itu lagu apa dan siapa yang menyanyikannya.  

                Tapi tidak begitu dengan para turis lokal yang lebih memilih buru-buru berjalan ke pintu keluar Bandara. Dan diantara mereka, nampak seorang gadis muda yang berjalan pelan sambil menarik koper hitam besar di tangan kanannya. Setiap dua langkah sekali, ia selalu menghela napas panjang. Bukan karena beratnya koper yang ia tarik tapi dari raut wajah gadis itu yang tidak cukup senang jika harus menginjakkan kaki di kota ini lagi.

                Kemudian, langkahnya terhenti ketika melewati pintu luar bandara. Hanya satu meter lagi dari tempatnya berdiri dengan jalanan aspal di depannya. Tapi entah kenapa gadis itu malah memilih berhenti ketika semua orang di sekitarnya mempercepat jalannya, masuk ke dalam mobil yang bergantian berhenti tepat di depan pintu masuk bandara atau berjalan keluar bandara –menunggu taxi datang. Dan sekali lagi gadis itu menghela napas. Entah itu sudah yang ke berapa kalinya.           

            Gadis itu menggeser kopernya ke sisi kanannya supaya lebih aman. Lalu,sebelah tangannya bergerak melepas headphone putih yang daritadi terpasang di kedua telinganya dan mencabut kabelnya dari ujung ipod biru miliknya. Kemudian, menyimpannya ke dalam tas ransel kecil yang di selampirkannya tadi ke sebelah bahunya. Gadis itu kemudian membenarkan lagi lengan ransel di punggungnya. Lalu, matanya bergerak turun mengamati benda-benda yang yang membalut tubuh mungilnya. Bisa dibilang perpaduan yang dikenakan gadis itu tidak terlalu buruk. Cukup chiamic....

                Kaos putih polkadot merah yang ditimpal dengan jumpsuit denim, sneakers putih, jam tangan gucci hitam di pergelangan kirinya dan beberapa gelang plastik warna-warni yang melingkar di tangan kirinya. Dengan rambut cokelatnya yang di cepol tapi sedikit berantakan serta poni yang menutupi seluruh dahinya.

            Lima menit berlalu, menyisakan ia dan dua pria yang masih berdiri di luar pintu bandara. Tapi hanya ia satu-satunya yang tidak sedang menunggu apapun. Karena dua pria itu sama-sama tampak tengah menunggu sesuatu. Pria pertama yang berdiri beberapa langkah di depannya terlihat sangat gusar dan sesekali ia mendecakkan lidah sambil bergumam sesuatu. Sementara, pria kedua yang berdiri menyandar di tiang sebelah pria pertama tengah sibuk dengan ponsel di telinganya. Sepertinya pria itu telah memesan taxi online tapi karena taxi yang dipesannya tidak datang juga akhirnya ia terus-terusan menelfon si supir taxi.  

                Tak lama, sebuah sedan hitam berhenti persis di depan kedua pria itu. Lalu, seorang pria paruh baya turun dari kursi kemudi dan berjalan ke arah pria pertama, membawa masuk koper hitam ke dalam bagasi. Lalu, gantian membukakan pintu belakang yang disusul pria pertama masuk ke dalamnya. Setelah pria pertama itu masuk dan menutup kembali pintu, pria paruh baya itu pun membuka pintu kemudi dan duduk. Mobil itu pun melaju pergi. Gadis itu terus memandangi mobil itu sambil menyeringai sampai mobil itu menghilang di loket pembayaran.

                Selang bebearap detik setelahnya, sebuah taxi berwarna hijau pun datang. Tampak jelas guratan senang di wajahnya kala si supir berjalan ke arahnya. Setelah bercakap sebentar, supir itu membawa koper pria itu ke dalam bagasi, bersamaan dengan pria itu yang duduk di kursi belakang. Kemudian, disusul si supir yang duduk di kursi kemudi.  Gadis itu gantian memandangi belakang taxi itu dengan ulasan senyum di bibirnya hingga taxi itu juga menghilang setelah di loket pembayaran.

                Dan sekarang giliran gadis itu yang sudah harus beranjak pergi darisana. Karena jam pun sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dia tak ingin terlalu lama disini dengan ditemani udara malam yang berhembus dingin ke arahnya. Gadis itu kurang menyukai  hawa yang seperti itu. Dan saat gadis itu mulai menyeret kopernya dan mulai berjalan. Tiba-tiba seseorang menubruk keras bahunya. Membuatnya mengerang keras sambil memegangi bahunya , mengaduh kesakitan.

                Detik kemudian, kedua matanya berpapasan langsung dengan seorang pria yang berdiri di depannya. Gadis itu ingin melayangkan protesannya. Tapi kemudian ditundanya kala dilihatnya si pria menutup sebagian wajahnya dengan topi, kacamata hitam dan masker. Sulit bagi gadis itu melihat jelas si pria yang menabraknya itu.

                “Maaf ya mbak....maaf...saya lagi buru-buru. Maaf....”kata pria itu kemudian berlalu. Sementara, gadis itu menautkan kedua alisnya sambil mendengus kasar –tanda ia tengah kesal. Dasar cowok nggak tahu diri, umpatnya dalam hati.

                Setelahnya, gadis itu memilih cepat-cepat pergi sebelum suasana hatinya bertambah buruk. Di hari pertama ia tiba saja, sudah ada kejadian seperti tadi. Bagaimana besok, apa lagi yang akan terjadi. Tidak tahu. Gadis itu lebih memilih tidak ingin memikirkannya.

........

                “ Ah, dimana sih” gerutu seorang pria berpostur tinggi dan berwajah putih tampan sambil merogoh-rogoh kantung celana dan jaketnya..Tapi tetap saja ia tidak menemukan benda yang ia cari itu. Dimana sih itu?

                Sampai ia mengobrak-abrik isi koper dan tasnya. Tapi benda yang dicarinya juga tidak ada. Akhirnya ia berpikir sebentar, mengatur ulang isi memorinya. Tiga hari lalu, saat ia berangkat...di hotel...saat ia di dalam pesawat dan tadi saat di taxi....tidak. Pria itu menggeleng cepat. Ia sama sekali tidak merasa meninggalkan benda itu. Lalu... Ah, ingat!!, pria itu berseru kegirangan. Lalu  disusul suara tawa yangpecah  keluar dari mulutnya. Bahkan sampai ia hampir ingin menangis.

                “Ya iyalah nggak bakal ketemu. Orang waktu berangkatnya aja gue lupa bawa”katanya seraya menepuk dahinya pelan sambil tertawa lagi. Menertawai dirinya sendiri. Bego banget sih gue

                Setelah merapikan isi koper dan tasnya. Pria itu berdiri diam lagi, berpikir. Karena dari awal ia tidak membawa kunci pagar rumahnya. Jadi apa sekarang ia harus memanjat pagar rumahnya sendiri? Apa harus....tapi kalau ada orang lain yang melihatnya nanti ia bisa dikira maling. Tapi kalau bukan gitu, ia akan menginap di luar. Dan setelah cukup lama bergelut dengan pilihannya, juga sudah melihat situasi di kanan-kirinya yang aman. Ia pun memilih memanjat pagarnya sendiri.

                Pertama, ia melempar tas nya yang berukuran sedang. Itu mudah karena sangat enteng. Tapi giliran koper hitamnya. Ia tampak mendesah berat. Ia bingung bagaimana mengangkat koper besar hitam itu melewati pintu pagar yang terkunci itu. Belum lagi benturannya bakal terdengar keras membentur aspal. Jadi?. Bola matanya mencari-cari cepat sebuah benda yang bisa membantunya. Hingga kedua matanya menjatuhkan pandang pada seutas tali yang tidak terpakai di taman depan rumahnya. Aha...gue punya ide, batinnya girang seraya menjetikkan sebelah jarinya. 

                Setelahnya, ia langsung mengambil tali itu yang panjangnya sekitar dua meter. kemudian, mengikatkan ujungnya kencang di pegangan kopernya. Lalu, mengangkatnya hati-hati karena beratnya yang hampir seperempat dari berat tubuhnya. Dan saat kopernya sudah melewati atas pintu pagar, ia menahannya sebentar dengan tali itu. Ia memanjat pintu pagarnya lalu mulai menurunkan kopernya pelan dengan tali itu dari atas. Mirip seperti menurunkan ember ke dalam sumur.  Huft...akhirnya berhasil. Ia menyeka keringatnya di dahi dengan kerah bajunya.

                Dan sekarang giliran ia sendiri yang harus melewati pagar itu. Tapi itu tidak terlalu sulit. Karena ia suka sekali menonton film action. Dan film terakhir yang ia tonton kebetulan adalah Bad Boys II. Jadi, ia pikir ini tidak akan berbeda jauh dengan action para aktor di film itu. Tanpa berlama-lama lagi, segera ia menaiki pintu pagar itu. Ketika sudah sampai atas,  baru ia meloncat, mirip seperti yang dilakukan Will Smith. Dan hap, dengan cepat ia sudah berpijak di dalam pintu pagar rumahnya.

                Ia tertawa bangga atas dirinya sendiri. Lalu, mengambil tas dan kopernya masuk ke dalam rumah bercat putih itu sambil bersenandung pelan.

........

                Taxi yang membawa gadis itu sampai di depan sebuah rumah yang dikelilingi dinding batu bata. Setelah membayar uang taxi, gadis itu pun turun. Sambil menarik kopernya, ia membuka pintu pagar yang terbuat dari kayu, berjalan masuk di jalanan bebatuan yang tersusun rapih.  Di sekitarnya  terdapat  taman yang cukup lebar yang ditumbuhi rumput-rumput kecil, dua pohon mangga besar di sisi kanan-kiri dan beberapa tanaman di pot-pot yang tersusun rapih di sebuah rak terbuat dari bambu.

                Gadis itu menaiki tiga anak tangga sebelum mencapai di depan pintu rumah bergaya adat jawa itu. “Oma...oma....” gadis itu berseru memanggil si pemilik rumah sambil mengetuk-ngetuk. Sayangnya, di rumah itu tidak ada bel yang bisa membuat si pemilik rumah tahu ada tamu datang. Jadinya, terpaksa ia harus menunggu cukup lama sampai pintu yang di ketuknya itu terbuka.  

                Tiga menit kemudian, pintu bergaya adat jawa itu tertarik ke belakang. Seorang wanita paruh baya muncul di baliknya. Wanita itu diam sesaat, kedua alisnya bertaut  menatap tajam ke arah gadis itu. Kemudian, ditaruhnya kacamata berlensa tebal yang tergantung di lehernya ke atas hidung mancungnya. Begitu melihat jelas siapa gadis yang berdiri di hadapannya itu, wanita itu pun langsung mengulas senyum bahagia. “ Adel...Adel cucu Oma?”. Wajahnya yang sudah mengeriput tetap tidak bisa menghillangkan guratan terkejutnya.

                Gadis yang bernama Adel itu tersenyum menganguk. “Iya Oma ini Adel” kata Adel seraya menghamburkan tubuhnya memeluk wanita paruh baya yang dipanggilnya Oma itu.

                Wanita paruh baya itu –Oma Linda adalah Ibu dari Mamanya. Beliau sempat tinggal bersama Adel dan mamanya di Jakarta. Tapi sejak sepuluh tahun lalu, beliau berpindah tinggal di Jogja. Katanya Oma Linda ingin menghabiskan waktu tuanya di kota kelahirannya ini. Dan rumah yang ditempatinya kini adalah rumahnya sendiri, sekaligus rumah tempat mamanya di besarkan dan Adel di lahirkan.

                “Kenapa nggak bilang kalau mau kesini toh Del?” tanya Oma Linda dari dalam dapur. Sementara, Adel sudah duduk menyandar sambil menyelonjorkan kakinya ke atas meja di ruang tamu.

                “Iya Oma, Adel lupa”

                Ralat. Sebenarnya ia tidak lupa. Ia sengaja tidak memberitahu Oma nya ketika datang kemari. Itu karena awalnya ia ingin menginap di homestay atau hotel tapi ketika di pesawat tadi entah kenapa ia jadi berubah pikiran dan akhirnya memutuskan menetap sebentar di rumah Oma nya.  

                “Yaudah. Sekarang kamu mau makan apa istirahat. Kalau makan ambil di tempat biasa ya Del” kata Oma sekembalinya dari dapur sambil membawa segelas susu putih.

                “Nggak deh Oma. Adel langsung ke kamar aja. Lagian ini udah malem. Makasih ya Oma susu nya”. Tangan kanannya mengambil segelas susu putih dari tangan Oma nya. Sementara, tangan kirinya menarik koper hitamnya sembari berjalan ke kamarnya yang tepat di dekat anak tangga terakhir.

                Begitu ia menyalakan lampu kamarnya. Dinding ber-cat biru muda itu langsung terespon cepat ke retina matanya. Nuasansa dingin juga langsung terasa di tubuh kecilnya.  Tapi yang tidak kalah ketinggalan bau apek seperti ruangan yang lama tidak dihuni juga mendominasi indra penciumannya. Ya...kalau dihitung sih sudah setahun lebih kamar ini tidak ditempatinya. Alasannya? Sangat simple tapi Adel malas memberitahunya karena itu juga yang menjadi alasan pentingnya kenapa ia sangat malas mendatangi kota ini lagi.

                Adel menyeret kopernya ke pinggir ranjangnya dan menaruh tas ransel nya di atasnya. Lalu, meletakkan segelas susuk di atas meja nakasnya. Hah, sekarang tinggal memasang sprei di kasurnya. Kemudian, baru ia bisa tidur dengan nyenyak. Tanpa berpikir panjang lagi. Ia mulai membuka lemarinya dan menarik keluar sprei berwarna biru dongker juga. It’s time....

......

                “Uh, capeknya” kata Adel seraya merebahkan tubuhnya ke atas kasurnya yang sudah terbalut sprei biru dongket, menyeka bulir keringat di dahinya dengan punggung tangannya.  

                Rasa capeknya setelah merapikan kamarnya tadi ditambah suasana kamarnya yang sudah nyaman dan tidak bau apek lagi, langsung merangsang matanya untuk terpejam tapi Adel harus menundanya dulu tatkala ia mendengar lagu Radioactif Imagine Dragon yang di-set nya menjadi nada dering ponselnya. Membuatnya terpaksa bangkit dan merogoh ke dalam tas kecilnya.

                Dan sialnya, settingan di Hp nya itu kalau panggilannya nggak di angkat-angkat deringannya malah makin keras. Yang membuatnya seperti menonton live konser Dan Reynolds cs  di kamarnya. Adel menggerakkan cepat tangannya manakala suara deringannya itu bertambah makin keras. Adel  mengeluarkan kata serapah –kebun binatang dan kotoran manusia keluar- tatkala gendang telinganya dirasakannya hampir pecah dan detik itu juga ia bersumpah bakal mengganti nada deringnya setelah ini.

                Nggak menemukan benda yang dicarinya di seleting belakang. Adel langsung cepat-cepat berpindah tangan ke kantung bagian depan tasnya. Adel mengucap syukur dan bernapas lega setelahnya tatkala benda ber-touchscreen itu berhasil ditemukannya. Cepat-cepat ia menggeser lock screen-nya sebelum Oma nya datang dan mengomelinya karena keberisikan yang dibuatnya malam-malam. Setelahnya, ia menggeser panel hijau di layar Hp nya  lalu menempelkannya ke sebelah telinganya. “Hallo” sapa suara cewek di ujung sana.

                Tapi Adel tidak langsung menyahutnya  karena tadi ia lupa melihat nama atau nomor yang orang yang menghubunginya. Mudah-mudahan aja ini bukan telfon iseng, pikirnya.  

                Adel menyeringai singkat kala ia mendengar suara si penelfon di detik berikutnya. Suara cempreng di ujung sana, siapa lagi yang bisa bicara sperti itu padanya selain dia. Sudah pasti ini sahabatnya, Sandra –si cerewet itu.

                “Ya, udah. Kenapa emang?” tanya balik Adel dengan nada malas.

                “Eh, kenapa kedengarannya lo kayak nggak seneng gitu gua telfon” cibir Sandra di ujung sana. Gimana nggak, lo nelfonnya di waktu yang nggak tepat San, batinnya menggerutu.

                Baru Adel ingin membalasnya. Tahu-tahu Sandra duluan menyelanya. “Eh, udah lupain aja. Lo udah tahu kan besok kayak gimananya?” . Hal yang paling disukainya itu yaitu mengganti topik pembicaraan tiba-tiba.

                “Iya, udah kok” gumamnya pelan seraya mendudukkan pantatnya di pinggiran kasur empuknya. Lalu, meraih segelas susu di meja sampingnya dan meneguknya pelan.

                “Oke sip. Gua Cuma nanya gitu aja. Bye Del. Tidur yang nyenyak ya. Mwuahh” Panggilan itu langsung diputuskan sepihak oleh si penelfon. Adel geleng-geleng kepala sambil menatap ponselnya yang sudah mati sebentar. Ada perasaan geli sekaligus jijik mendengar sahabatnya itu melayangkan ciumannya di telfon. ‘Ih apa-apaan sih nih anak’ batinnya. Lalu, menaruh ponselnya lagi ke sembarang kasurnya.


                Adel menaruh segelas susu tadi ke atas meja setelah meneguk habis isinya. Matanya sudah meronta-ronta untuk di pejamkan. Tanpa mencuci wajah dan mengganti baju yang dikenakannya. Hanya melepas sneakers dan kaos kakinya serta melepas cepolannya dan menguraikan rambutnya  dengan tangan asal. Adel langsung memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di bawah selimut biru dongkernya. Setelahnya, hanya dalam hitungan detik Adel sudah menyelam indah ke alam tidurnya. 


Minggu, 29 Januari 2017

Be Enchanted



PROLOG

               
                “Hai Del, abis makan siang lu udah boleh pulang kok” kata cewek berambut tergerai panjang dengan ujungnya ikal seraya menaruh nampan makananannya ke atas meja sembari mendudukkan diri di sebelah cewek berambut selengan yang tengah fokus mengunyah nasi di mulutnya.

                “Tumben banget” cibir si cewek berambut selengan acuh yang bernama Adelia seraya menyumpit nugget kecil di nampannya lalu menyuapkannya ke dalam mulut, mengunyah.

                Cewek berambut tergerai itu kemudian tertawa. “Emang nggak boleh apa kalau Bos nyuruh anak buahnya pulang cepet”. Setelahnya, dia tertawa lagi.

                Adel sama sekali nggak menggubris, dia masih meneruskan mengunyah sisa nugget di mulutnya sebelum gantian menyuap sesumpit nasi ke dalam mulutnya. Sepuluh menit berlalu, dua cewek yang duduk di tengah meja Cafetaria saling diam seolah sedang menikmati makan siangnya masing-masing. Berkebalikan dengan suasana Cafetaria yang makin ramai bersamaan dengan jam makan siang yang hampir selesai.

                Sedetik berlalu, Adel menyudahi makannya yang masih menyisakan setengah porsi lagi. Dia meletakkan sumpitnya ke sisi nampannya. Lalu, memutar kepalanya malas ke cewek di sebelahnya yang tengah asyik menyuap sayuran ke dalam mulutnya.

                “Udah deh nggak usah basa basi. Mau lu sebenarnya apa sih San?”tanya Adel pada si cewek yang bernama Sandra.

                Sandra balas menoleh, memasang wajah berpikir sekalian menelan kunyahannya sebelum berkata. “Nah untung lu peka Del” tukas Sandra sambil menyodorkan sumpitnya ke depan wajah Adel. Refleks Adel memundurkan sedikit tubuhnya, takut-takut sumpit Sandra mencolok matanya. Berabe deh jadinya...

                Sandra menyudahi makannya cepat, dia lalu bangkit berdiri dan melompati bangku panjang yang di dudukinya tadi. Adel mendongak lalu melihat Sandra yang berbalik badan menghadapnya. “Pokoknya malam ini lu harus berangkat ke Jogja. TITIK” tukasnya jelas tanpa bantahan. Setelahnya, Sandra berlalu pergi tanpa mendengar protesan panjang yang sudah siap di lontarkan Adel.

                Adel menghela napas panjang di duduknya. Dirasakannya bahunya begitu berat. Adel menunduk. Kata-kata Jogja mengiang-ngiang di telinganya.


                Jogja ya....kenapa dari 34 kota di Indonesia. Gue harus disuruh kesana. Anjirr bangettttt, rutuknya dalam hati. 


Be Enchanted Bab 1

Senin, 16 Januari 2017

UNEXPECTED MARRIAGE CHAP 1

Hai whats up?? 
Gue nulis lagi dengan korean romance story. Konfliknya sih lumayan lah. Tapi kayak judulnya 'marriage' so pasti tentang pernikahan. Eittt, tapi ini bukan tentang pernikahan yang lu bayangin. Ada kata 'unexpected' berarti nggak di duga-duga. Ayo apa maksudnya hahah

Oke....langsung aja. check this out....

read and commend ya, soalnya bagaimana pun juga gue masih penulis amatir yang masih butuh kritikan dan semacemnya. Okeee....bismillah....

~~
CHAP 1

                Aku menarik napas panjang untuk kesekian kalinya sebelum kedua kakiku menginjak di depan pintu kaca yang terbuka otomatis sebuah gedung tinggi yang bertuliskan besar CM Ent.

                Ku akui ini seperti mimpi tatkala kedua mataku mengedar ke sekelilingku dan menemukan bingkai-bingkai besar yang terpajang di dinding paling atas. Omo, cepat tampar wajahku kalau ini bukan mimpi....

                Satu per satu foto ku perhatikan lekat-lekat dan mendecak kagum setelahnya.

                Omo...Bagaimana aku bisa menjelaskan perasaanku pada mu sekarang kalau aku sedang berdiri di dalam gedung sebuah agensi  yang sudah  menciptakan idol-idol terkenal itu?

                Hampir saja aku akan meneteskan air mata  mengingat betapa besar perjuanganku hanya untuk menginjakkan kaki di tempat ini kalau aku tidak melihat jarum jam yang terpajang di lobby. Aku hampir lupa kalau audisinya sepuluh menit lagi....

                Segera aku berjalan ke bagian resepsionist. Disana duduk dua yeoja cantik di belakang meja setinggi satu meter. Yeoja pertama yang berpakaian blouse ungu muda sedang memilah-milah dokumen sementara yeoja satu lagi yang berpakaian blouse pink sedang menerima telfon. Daebak, padahal tugasnya hanya seperti itu tapi penampilan mereka...

                “Permisi, ada yang bisa saya bantu?”

                Aku terhenyak dari lamunanku dan menatap yeoja blouse ungu muda yang ternyata bertanya padaku.

                Malu-malu aku menyerahkan map cokelat padanya.

                “Oh, kau ingin mengikuti audisi ya? ruangannya ada di lantai tiga. Setelah keluar lift lalu belok kanan, di pintu ketiga dari lift. Hwaiting!”katanya tersenyum sambil mengarahkanku dengan sebelah tangannya.

                Aku lalu melangkah pergi ke lift yang berada di pojok kananku setelah membungkuk pada yeoja itu seraya mengucapkan terimakasih. Tidak lupa tadi aku mengulas senyum selebarnya.

                Ah, disinilah aku....inilah mimpiku sejak lama. Aku tidak naif kalau aku sangat ingin menjadi seorang aktris. Untuk itulah dua tahun lalu aku pergi ke Seoul untuk bekerja mengumpulkan uang dan menyewa tempat tinggal disini. Itu akan mempermudahkan ku untuk mengikuti audisi-audisi seperti ini.

                Ah ne...aku sampai lupa memperkenalkan diriku kan. Perkenalkan namaku Im Ha Neul. Mirip nama seorang aktris Kim Ha Neul kan? Ah aniyo, tentu saja aku tidak secantik dia dan aku juga tidak pernah bisa disandingkan dengannya. Itu karena eomma-ku sangat menyukainya. Mungkin itulah dulu alasan eomma-ku menamaiku sama sepertinya. Ada-ada saja eomma-ku....

                Ini bukan audisi pertamaku. Aku sudah pernah mencoba di tiga agensi sebelumnya. Tapi ini pertama kalinya aku mencoba audisi di salah satu agensi terbesar di korea Selatan. Deg-deg-an sudah pasti. Kira-kira berapa ya peluangku untukku bisa lolos? Ah aku tidak boleh memikirkannya. Pokoknya aku harus melakukan semaksimal mungkin. Hwaiting Ha Neul !!

                Aku mendongak melihat ke atas lift yang masih tertera angka enam dengan anak panah turun. Huftt...lama sekali. Padahal aku sedang terburu-buru. Tepat disaat itu, aku mendengar suara-suara berisik dari arah pintu masuk. Sontak aku berbalik dan mendapati banyak wartawan yang sedang mengerubuni seseorang. Eh?

                Keningku berdenyit, bertanya-tanya siapa dia?. Tapi setelah itu aku langsung bersikap acuh dan kembali pada kegiatanku sebelumnya. Lagipula wajar kalau ada hal seperti itu disini. Mungkin saja dia salah satu artis asuhan agensi ini. Tapi aku juga jadi sungguh kasihan padanya. Aku sampai membayangkan jika suatu hari nanti aku seperti itu, apa yang akan kulakukan ya?. Para wartawan itu begitu mengerikan, aku bergedik ngeri.

                Selang beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka. Aku langsung melangkah masuk dan menekan angka tiga tatkala seorang namja berlari ke arahku sambil berseru menyuruhku menahan pintu lift. Aku pun melakukannya. Dengan sebelah tanganku aku memegangi pinggiran pintu lift. Mataku terbelalak kaget ketika ku tahu namja itu berlari sambil merangkul seorang namja di sebelahnya. Mendekat ke arahku bersamaan dengan flash-flash kamera dari para wartawan itu. Refleks aku langsung menutup wajahku dengan map cokelat yang ku pegang.

                Lalu entah ke detik berapa aku mendengar pintu lift sudah tertutup dan tidak ada suara berisik para wartawan itu. Aku lalu menurunkan tanganku perlahan dan penglihatan yang kudapat sekarang adalah dua orang namja yang berdiri membelakangiku. Aku memperhatikan tubuh mereka yang berpostur lebih tinggi dariku. Salah satunya berpakaian begitu fashionable dengan topi hitam yang bertengger diatas kepalanya.

                “Hyung, aku tidak ingin ada seperti itu lagi. Mereka terus menyodorku dengan pertanyaan yang bahkan belum sempat kujawab”. Dari nada suaranya bisa kutebak kalau dia sedang kesal.

                “Mau bagaimana lagi, kalau mau kau harus cepat mencari seorang yeoja supaya mereka tidak mengejarmu terus”

                Lama aku memperhatikan dua namja itu saling berbicara hingga salah satunya membalikkan badan dan memandang ke...arahku melalui kacamata hitamnya. Omo, aku hampir dibuat terkejut. Sepertinya dia baru menyadari keberadaanku di lift ini karena tadi aku sempat melihat sebelah alisnya naik. Lalu, kulihat sebelah sudut bibirnya terangkat ke atas. Glek. Aku menelan ludah keras. Dua orang namja dan satu yeoja di dalam lift kecil ini. Oh no....

                “Jeongmal mianhe. Kejadian tadi pasti membuatmu kaget kan? sekali lagi jeongmal mianhe”. Dia membungkuk di hadapanku. Lalu, namja di sebelahnya juga berbalik dan ikut membungkuk padaku setelah di senggol oleh nya. Bisa kulihat jelas wajah namja itu yang kutaksir dia adalah seorang ahjussi. Ah, aku jadi salah tingkah gini....

                Teng!

                Pintu lift terbuka, aku mendongak untuk memastikan aku benar berada di lantai tiga. Dan saat aku ingin melangkah keluar ternyata dua orang namja tadi juga ikut keluar. Ah jadi mereka juga ingin ke lantai tiga, pantas tadi aku tidak melihat mereka memencet angka lift.


                Mereka tidak mengatakan apapun setelahnya. Tapi aku sempat melihat namja bertopi itu berbalik dan tersenyum padaku sebelum pergi. Ku pandangi punggung mereka yang semakin menjauh dan menghilang ketika masuk ke sebuah ruangan. Aku masih berdiri diam di tempatku sampai aku sadar kalau aku harus segera bergegas pergi juga ke ruang audisi. Oh no.... aku harus cepat...Hwaiting, Ha Neul!, batinku berbicara  mantap seraya mengepalkan sebelah tanganku ke 
udara. 

...........

Pabo...pabo...pabo imnida....

                Aku menyumpahi diriku sendiri sambil menendang-nendang sebelah kakiku ke dinding pembatas di lantai tiga yang hanya setinggi setengah badanku. Aku kesal, kalau ditambah dengan tiga audisi ku yang gagal kemarin berarti ini sudah menjadi yang ke empat.

                Dan tanpa kusadari bulir bening  meluncur di kedua pipiku tatkala aku lantas jatuh berjongkok dan menyandarkan keningku ke dinding di depanku. Kedua tanganku menelungkup wajahku sembari meredam suara tangisku supaya tidak terdengar.

                Sampai beberapa detik kurasa aku masih betah pada kegiatanku. Hingga sebuah deheman keras membuatku  tersadar lalu lantas bangkit berdiri sambil menunduk seraya mengusap air mataku buru-buru. Ah, aku tidak ingin dia yang tahu kalau aku barusan menangis.

                “Ini, usap pakai ini”. Aku melihat sebelah tangan mengulur ke depan wajahku yang masih menunduk sambil memegang sapu tangan putih. Apa tadi dia melihatku menangis?

                Aku lantas menampis tangannya. “Nggak usah. Kamsahamnida” kataku seraya membungkuk badan dan saat aku akan berbalik pergi tiba-tiba sebelah tanganku tertahan olehnya. Membuatku kemudian membalikkan badan dan perlahan mengangkat kepalaku.

                Sedetik kemudian, mataku melebar kaget ketika tahu siapa ternyata yang berdiri di hadapanku sekarang. “Seung Ho oppa?”. Aku memastikan karena ku pikir mungkin ini hanya kesalahan penglihatanku saja yang terlalu lama menangis. Tapi kemudian kulihat dia mengangguk pelan. Dan itu membuktikan kalau dia memang Seung Ho. Yoo Seung Ho, si aktor itu!

                Kalau saja saat ini kami sedang berada di tempat yang tidak terlalu ramai. Aku pasti akan berteriak sekencang-kencangnya. Omo...kalau kau berpikir aku mengikuti audisi supaya bisa kebetulan bertemu dengan para aktor atau idol itu berarti kau salah besar. Aku sama sekali tidak pernah menyimpan pikiran begitu.

                “Hey, kenapa melamun?” tanya Seung Ho seraya mengibaskan tangannya ke depan wajahku beberapa kali dan setelah aku sadar ketika pikiranku sudah kembali aku langsung mengatup mulutku cepat dan menggerak-gerakkan kepalaku –menormalkan penglihatanku.

                “Kau bukannya yeoja di lift tadi, ne?”. Kurasakan panas di wajahku tatkala dia mendekatkan wajahnya padaku –seperti sedang memeriksa apakah ada kotoran di wajahku atau tidak- sambil menyipitkan kedua matanya. Saat dia melihatku yang refleks menjauh, ia pun juga ikut menjauhkan wajahnya dariku. Uh, akhirnya aku bisa menghirup oksigen lebih banyak....

                “Waeyo?” tanyanya seraya melipat tangannya ke depan dada dan masih menatapku penuh tanya. “Ne, kau itu memang yeoja di lift tadi” timpalnya mengangguk-angguk seraya tersenyum padaku.

                Mwo? Yeoja di lift? Bagaimana dia bisa...Omo!. Aku memekik keras dalam hati bersamaan dengan mataku yang melebar kaget. Omo...Omo...jadi dia namja yang bertopi dan berkacamata itu. Omo...jadi tadi aku satu lift dengan Yoo Seung Ho?. Omo...kenapa aku tadi nggak menyadarinya. Pabo...pabo imnida.

                “Lagi-lagi kau melamun lagi. Tadi aku sedang menyamar dan saat aku ingin masuk kemari. Ternyata ada beberapa wartawan yang menungguku di dekat gedung. Jadi tadi ketika aku turun mobil mereka langsung mengejarku”. Aku hanya mengerjap-ngerjap mendengar penjelasan tapi aku tidak tahu harus menjawab bagaimana.

                “Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kau menangis tadi? Apa kau baru mengalami kejadian buruk?”. Jleb. Ternyata benar tadi dia memang melihatku menangis. Pabo kau Ha Neul....

                Aku mendesah berat. “Ne, aku gagal audisi tadi” jawabku pelan dengan nada sedih sambil menunduk. Ne, aku masih merasa sedih soal audisi itu...

                “Hey, apa kau sudah menyerah begitu saja?” tanyanya sambil memegang kedua pundakku. Dan hal itu sukses membuatku menegang.

                Perlahan aku mengangkat kepalaku lantas berusaha mencerna kata-katanya di sela-sela keteganganku. Entah bagaimana aku membalasnya dengan gelengan.

                “Kau tahu, aku dulu juga pernah mengalami gagal. Aku berkali-kali gagal ketika audisi dan casting. Jangan kau kira aku tidak mencobanya di semua agensi. Aku sudah melakukannya tapi aku selalu gagal. Tapi aku tidak menyerah karena aku tahu kalau suatu saat nanti pasti ada satu agensi yang akan menerimaku. Dan ternyata aku benar. Ketika aku merasa ini yang terakhir kalinya aku mengikuti audisi akhirnya mereka melihat bakatku dan menerimaku”.

                Aku menghembuskan napas pelan setelah mendengarnya. Rasanya lebih mudah mengatakannya daripada melakukannya oppa....

                “Maksudku, aku ingin kau berjuang lebih keras lagi. Setiap manusia dilahirkan dengan bakatnya masing-masing dan jangan pernah menyerah sampai orang lain melihat bakatmu itu”. Ucapannya diakhiri dengan senyuman manis bersamaan dengan kedua matanya yang menyipit membentuk eye smile. Oh, aku hampir lupa Seung Ho oppa terkenal dengan eye smile-nya dan aku tidak menyangka aku bisa melihatnya dari dekat.

                Perkataannya seolah seperti vitamin baru untukku. Seketika aku merasa energi semangatku terisi lagi. Dan sedetik kemudian, aku pun mengangguk tersenyum.

                Tubuhku seperti tersentrum saat dia menyolek ujung hidungku pelan. “Nah gitu dong. Kau jadi terlihat cantik. Ah, aku harus pergi sekarang. Anyeong—“

                “Ha Neul. Kim Ha Neul imnida” sergahku cepat ketika dia mengernyitkan keningnya heran.
                “Ah ne, anyeong Ha Neul-ssi. Hwaiting!!”. Sebelah tangannya terangkat ke udara sembari tersenyum lebar sebelum dia berjalan pergi.

                Aku tersenyum singkat sembari membalikkan badan dan manatap punggungnya yang semakin menjauh. Kata-katanya terngiang lagi di otakku.


Hawiting Ha Neul !!