Minggu, 12 Februari 2017

Be Enchanted 2

BAB DUA


`              Note...Pulpen...Pensil...Perekam suara. Apalagi ya....Ah, Hp !

                Adel sedang menjejerkan semua barang yang akan dibawanya di atas kasurnya. Tidak boleh ada satu pun barang yang tertinggal, itulah mottonya. Lalu, setelah ia rasa semua barang yang dibutuhkannya lengkap langsung saja ia memasukkannya ke dalam tas ranselnya.

`              Dan hampir saja, ia melupakan satu barang yang paling penting kalau ia tidak menge-check kembali meja belajarnya. Power bank. Camkan kalau benda itu yang paling MUTLAK harus ada di dalam tasnya. Terutama disaat-saat ia dalam keadaan kepepet dan baterai Hp nya tertera angka 5%. Uh, itu posisi paling mengerikan...

                “Oma....Adel pergi dulu ya” pamitnya seraya mencomot roti selai kacang yang tersedia di atas piringnya lalu meneguk setengah segelas susu putih disamping piringnya.

                “Heh, Adel. Makan dulu sini” cegah Oma, melihat cucu nya itu yang sedang terburu-buru.

                “Maaf Oma. Tapi Adel udah telat nih. Bye Oma”. Telat. Adel sudah duluan melambaikan tangannya pergi sebelum Oma Linda sempat mencegahnya lagi. Oma Linda hanya geleng-geleng kepala di kursinya, tahu kelakukan cucunya itu tidak pernah berubah sama sekali. Tapi biarpun begitu, Oma Linda tidak pernah memarahi sikap Adel yang selebor gitu. Baginya Adel adalah cucu satu-satunya sekaligus kesayangannya.

                Di depan pintu pagar,Adel berdiri menunggu taxi online yang sudah di pesannya tadi sambil mengunyah roti selai kacangnya.  

.......

                Di dalam taxi, ia sedang membuka isi note nya. Memeriksa ulang daftar pertanyaan yang akan diajukannya nanti. Entah kenapa sekarang ia malah merasa gugup. Dan juga kedua tangannya berubah dingin. Tapi bukannya itu wajar, pasalnya ia kan bukan seorang wartawan. Sebagai editor majalah, ia sama sekali tidak pernah bertugas mewancarai seseorang. Ia terbiasa bekerja di balik meja dan kalau bukan Sandra, bos nya yang juga sahabatnya memintanya menggantikan Putri. Pasti ia tidak akan pernah mau menerima job ini.  

                “Nama gue Adela Putri Wijaya. Dan sebentar lagi gue bakal wawancarain seorang model yang lagi tenar. Namanya Nathaniel Refando. Gue sih nggak begitu tahu orangnya kayak gimana. Tapi banyak yang bilang kalau dia itu ganteng banget sampai bisa buat jantung setiap cewek deg-deg an. Gue jadi udah nggak sabar pengen ketemu sama dia. Apa bener sih dia kayak yang di bilang semua orang?” batinnya.

                List panjang di lembar note nya ke lima memang bukan ia yang menulis. Tapi si Putri. Dari awal Adel sudah menyetujui ia akan menggantikannya, tapi ia tidak ingin berurusan dengan menulis daftar pertanyaan ini. Ia hanya ingin tinggal mengajukan pertanyaannya saja. Dan untungnya Putri dan Sandra menyetujuinya. Beberapa jam sebelum keberangkatannya, Putri mengirim list question lewat chat dan setelah itu Adel tinggal menyalinnya ulang di lembar note nya.  

                Adel tahu betul alasan kenapa perusahannya memilih model itu untuk di wawancarai. Dari yang Adel dengar dari Sandra dan Putri, model itu sedang booming, wajahnya tampan dan belakangan ini ia juga sedang di kontrak berbagai macam iklan. Tapi yang membuatnya tidak habis pikir adalah pertanyaan di nomor delapan. Si Putri menulis pertanyaan yang menanyakan masalah pribadi si model, ‘apa kamu sudah memiliki seorang pacar sekarang atau kamu sedang dekat dengan seseorang?’. Adel mendengus pelan membacanya. Bagimana bisa Putri menyuruhnya mengajukan pertanyaan seperti ini. Biarpun ia seorang model, ia kan juga mempunyai privasi.

                “Sudah sampai Mbak” seruan si supir taxi membuat Adel terhenyak lalu mengalihkan pandangannya sebentar keluar jendela dan detik itu ia baru menyadari kalau sekitarnya bukan lagi gedung bertingkat tapi kompleks perumahan elite.

                Selesai membayar uang Taxi, Adel pun perlahan turun. Ia berdiri sebentar memandangi rumah di hadapanya. Satu kata di pikirannya yaitu rumah begitu minimalis dengan cat putih nya. Tapi ia belum tahu seperti apa di dalamnya. Kadang don’t judge by the cover itu memang perlu. Setelah melewati pintu pagar, dirinya bertemu dengan taman kecil –di sebelah kiri-yang ditengahnya terdapat kolam ikan. Adel sempat melongok, memeriksa ikan-ikan itu berwarna apa sebelum akhirnya ia sudah berdiri di depan pintu rumah itu.

                Sebelum ia mengetuk pintu, Dua menit ia pakai untuk seledar merapikan apa yang membaluti tubuhnya. Ditariknya jaket hijau untanya sampai sikut. Dirapikannya rambut cokelat tua nya yang hari ini ia kuncir ke atas. Entahlah, apakah yang dilakukannya ini penting atau tidak tapi ia ingin tampak rapih di depan model itu –bukan untuk ajang caper tapi PROFESIONALITAS.

                Tok....Tok...Tok....tiga kali ia mengetuk pintu ber-cat senada dengan dindingnya. Tapi tidak juga ada orang yang membukakannya setelahnya. Sekali lagi ia mengetuk, dengan ritme lebih keras. Namun, harapannya luntur. Detik berikutnya, ia merutuki diri sendiri tatkala matanya melihat bel di atas kanannya.  Ah sial. Setelahnya, ia memencet bel itu. Bunyinya begitu nyaring. Tapi hal itu tidak membuat si pemilik rumah membukakannya pintu.  Apa dia lagi pergi ya, batinnya.

                Karena penasaran, Adel pun menempelkan kedua matanya melihat suasana dalam rumah dari balik celah korden yang sedikit tersingkap. Tampak sepi. Sampai akhirnya ia pun menempelkan telinga kanannya di depan pintu. Mungkin saja ia bisa mendengar suara-suara keberadaan si pemilik. Tapi di detik berikutnya, tiba-tiba pintu itu terbuka. Spontan Adel pun terhuyung ke samping. Dan ia sudah bersiap kemungkinan terburuk. Terantuk lantai. Tapi anehnya tubuh dan kepalanya tidak sakit karena terantuk lantai. Malahan ia merasa tubuhnya sekarang begitu enteng. Sontak saja, ia mengangkat kepalanya pelan dan mendapati wajah tampan yang berkeringat. Dan setelahnya, Adel membulatkan mata shock kala didapatinya tangan kekar tengah menahan badannya. Refleks secepat kilat, Adel menegakkan badannya lagi  dan menyingkir cepat.

.......

                “Maaf, tapi aku udah ada janji dengan Nathan. Mendingan kamu panggil dia cepetan ya” kata Adel ketika pria itu menggiringnya masuk ke ruang tengah. Jujur, ternyata don’t judge by the cover itu betul. Begitu Adel digiring masuk oleh pria itu, dalam rumah ini berbanding terbalik dengan ekpekastasi rumah yang minimalis. Ruang tamunya begitu LUAS. Dan ada banyak lukisan abstrak di dindingnya.

                Bukannya balas menjawab. Pria itu malah tertawa. “Kamu pasti si Adel itu kan. Yang mau wawancarain saya”

                Adel menatap tajam pria itu. “Iya. Trus kenapa kamu ketawa gitu. Emang aku salah apa” katanya sedikit ketus seraya menaruh sebelah tangannya di pinggang.  

                “Hey, saya ini yang mau di wawancarain kamu. Saya NATHAN” sahut Pria itu dengan penekanan di akhir kata dan tatapan serius.  

                Adel menautkan kedua alisnya samar, memanyunkan bibirnya, memandang pria itu dari atas sampai bawah. Kalau di perhatikan baik-baik, mana ada seorang model yang berpenampilan begitu. Bagaimana bisa ia percaya kalau pria itu saja mengenakan celemek dapur berwarna pink polkadot, bando pink yang membuat rambut depannya tersisir kebelakang serta kaos putih yang ada noda bekas minyak, kecap dan mungkin juga...saos yang berwarna merah itu.

                Menangkap keraguan di wajah gadis itu. Pria itu pun membalikkan badan ke rak setinggi dua meter di belakangnya. Diambilnya foto miliknya di rak kedua dari atas lalu berbalik kembali menghadap Adel sambil mensejajarkannya tepat di samping wajahnya, meniru gaya di foto itu –yang tengah tersenyum- sekalian menyuruh gadis itu melihat baik-baik kesamaan di foto dengan pria itu.  

                Selang beberapa detik kemudian, Adel tampak mengangguk-angguk pelan. “Sepertinya kamu memang Nathan” gumamnya pelan. Namun, pria itu bisa mendengar ucapannya jelas dan langsung berkata.  “Aku memang Nathan tahu”

                “Oke. Aku percaya. Kalau gitu ayo kita mulai” Adel menepuk kedua tangannya, sebagai tanda memulai wawancara. Ia kemudian berpindah duduk di sofa panjang dan mengambil note, pulpen dan perekam suara di tasnya. Setelah itu, ia menaruh perekam suara itu ke atas meja. Memegang pulpen di tangan kanannya dan note dengan lembaran kosong di pangkuannya. “Jadi...” Adel memandang Nathan yang masih berdiri diam di tempatnya. Ia mengingatkan Nathan untuk duduk.  Tapi tanpa berkata apapun, Nathan malah berjalan ke belakang.

                Lalu, tak lama Nathan kembali dengan wajah yang lebih fress. Kaosnya pun sudah berganti. Tidak ada lagi noda minyak, kecap ataupun saus. Sekarang penampilannya sudah meyakinkan gadis itu kalau ia memang seorang model. Dengan kaos hitam pendek dan tatanan rambut yang sepertinya sudah ia rapikan tadi.

........

                “Udah nggak ada pertanyaan lagi?” tanya Nathan memastikan, ia tidak ingin setelah ini gadis itu menghubunginya lagi karena lupa ada pertanyaan yang belum diajukannya seperti yang pernah dialaminya sebelum-sebelumnya.

                Adel menggeleng. “Sudah cukup. Baiklah. Terimakasih atas kerja samanya”. Adel menyunggingkan senyum singkat sebelum ia beranjak dari sofa. Tapi saat ia sudah berbalik, tiba-tiba Nathan memanggilnya. Adel pun berbalik menghadapnya. “Apa kita sebelumnya pernah bertemu?” tanya Nathan seraya memandang baik-baik wajah gadis itu.

                Adel menautkan kedua alisnya samar, tanda ia sedang berpikir. Detik berikutnya, ia menggelengkan. Setelahnya, Nathan hanya meng-oh-ria kan lalu mengantar gadis itu sampai ke pintu pagar. Setelah, memastikan Adel sudah naik taxi. Nathan pun menutup pintu pagarnya dan kembali masuk ke dalam. Ia berjalan menaiki anak tangga dan sampai di dalam kamarnya. Tepat disaat itu, deringan lagu Don’t wanna know –Marron V terdengar. Cepat-cepat ia meraih Hp nya di atas meja nakas yang tertera di layarnya nama si penelfon yang dikenalinya itu. Bang Rendi. Nathan mengambil duduk di pinggiran kasurnya sebelum ia mengangkat panggilan itu.

                “Hallo....Oh iya Bang. Sip. Oh sekarang? Oke deh”. Panggilan  itu diputus sepihak olehnya. Kemudian, ia beranjak bangkit, mengambil handuk lalu berjalan ke kamar mandi.

..........

                Sebelum pulang, Adel mampir dulu di Cafe langganannya. Sudah lama ia tidak datang kemari dan tadi ketika taxi yang di tumpanginya lewat di depannya, ia menyuruh si supir taxi berhenti di dekat Cafe itu.

                Adel duduk di pinggir dekat jendela. Itu memudahkannya melihat langsung jalan raya yang cukup lengang di jam sepuluh-an. Sebelumnya, ia sudah memesan hot latte, minuman favoritnya. Jadi sekarang ia tinggal menunggu pesanannya datang.  Dalam keadaan begini memang cocoknya minum minuman yang panas seperti latte ditambah whip cream diatasnya. Maksud Adel dalam ‘keadaan begini’ itu, bukan karena di luar sedang di guyur hujan deras. Bahkan ia sangsi karena langit diluar begitu cerah dan panas. Tapi ia hanya sekedar merilekskan dirinya saja. Entah kenapa sepanjang ia melakukan sesi wawancara pada Nathan, ia begitu kagok dan hampir seperti orang bodoh disana.

                Bagaimana tidak, saat ia mengajukan pertanyaan nomor delapan. ‘apa kamu sudah memiliki seorang pacar sekarang atau kamu sedang dekat dengan seseorang?’’. Sontak saja ekspresi wajah Nathan berubah seketika. Yang tadinya ia tertawa karena habis melontarkan joke –yang tidak cukup lucu bagi Adel- setelahnya ia langsung terdiam. Dan mengatakan skip untuk pertanyaan itu. Dan ketika Adel sempat menyinggungnya di akhir mereka wawancara, pria itu cepat menyadarinya dan malah mengalihkan ke topik lain –dia bercerita soal masa kecilnya.

                Adel menjatuhkan kepalanya ke atas meja, menimbulkan suara antukan kecil yang tidak menarik perhatian para pengunjung Cafe. Ia menghembuskan napas berat. Sementara, otaknya berpikir keras tentang apa yang akan ia katakan pada Sandra ataupun Putri. Adel berani bertaruh seratus ribu kalau dari semua list question itu pertanyaan nomor delapan lah yang paling mereka inginkan. Dan sialnya, ia tidak mendapatkannya.

                “ Ini mbak hot latte pesanannya” seruan seorang pria berhasil membuatnya mengangkat sedikit kepalanya, menolah malas ke arah pria tinggi dengan celemek orange yang melingkar di badannya. Sontak Adel langsung menegapkan tubuhya lagi tatkala menyadari pria itu yang ternyata pramusaji membawakan pesanannya di sebelah tangannya.

                Adel mengucapkan terimakasih setelahnya. Sebelum pramusaji itu berlalu, ia sempat melihatnya mengulas senyum pada dirinya. Oh, apaan itu?

                Tapi Adel lebih memilih tidak ingin memikirkannya. Oh, kepalanya sungguh berdenyut. Hari kedua nya di kota ini sudah membuatnya kehabisan  energi dan lelah. Adel pun segera menyesap hot latte nya. Ada perasaan lega ketika cairan berwarna caramel itu sukses melewati kerongkongannya.


                Oh....It’s good.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar