BAB DUA
` Note...Pulpen...Pensil...Perekam
suara. Apalagi ya....Ah, Hp !
Adel sedang menjejerkan semua barang yang akan
dibawanya di atas kasurnya. Tidak boleh ada satu pun barang yang tertinggal,
itulah mottonya. Lalu, setelah ia rasa semua barang yang dibutuhkannya lengkap
langsung saja ia memasukkannya ke dalam tas ranselnya.
` Dan hampir saja, ia melupakan satu barang yang paling
penting kalau ia tidak menge-check kembali meja belajarnya. Power bank. Camkan
kalau benda itu yang paling MUTLAK harus ada di dalam tasnya. Terutama
disaat-saat ia dalam keadaan kepepet dan baterai Hp nya tertera angka 5%. Uh,
itu posisi paling mengerikan...
“Oma....Adel pergi dulu ya” pamitnya seraya mencomot
roti selai kacang yang tersedia di atas piringnya lalu meneguk setengah segelas
susu putih disamping piringnya.
“Heh, Adel. Makan dulu sini” cegah Oma, melihat cucu
nya itu yang sedang terburu-buru.
“Maaf Oma. Tapi Adel udah telat nih. Bye Oma”. Telat.
Adel sudah duluan melambaikan tangannya pergi sebelum Oma Linda sempat
mencegahnya lagi. Oma Linda hanya geleng-geleng kepala di kursinya, tahu kelakukan
cucunya itu tidak pernah berubah sama sekali. Tapi biarpun begitu, Oma Linda
tidak pernah memarahi sikap Adel yang selebor gitu. Baginya Adel adalah cucu
satu-satunya sekaligus kesayangannya.
Di depan pintu pagar,Adel berdiri menunggu taxi
online yang sudah di pesannya tadi sambil mengunyah roti selai kacangnya.
.......
Di dalam taxi, ia sedang membuka isi note nya. Memeriksa
ulang daftar pertanyaan yang akan diajukannya nanti. Entah kenapa sekarang ia
malah merasa gugup. Dan juga kedua tangannya berubah dingin. Tapi bukannya itu
wajar, pasalnya ia kan bukan seorang wartawan. Sebagai editor majalah, ia sama
sekali tidak pernah bertugas mewancarai seseorang. Ia terbiasa bekerja di balik
meja dan kalau bukan Sandra, bos nya yang juga sahabatnya memintanya
menggantikan Putri. Pasti ia tidak akan pernah mau menerima job ini.
“Nama gue Adela
Putri Wijaya. Dan sebentar lagi gue bakal wawancarain seorang model yang lagi
tenar. Namanya Nathaniel Refando. Gue sih nggak begitu tahu orangnya kayak
gimana. Tapi banyak yang bilang kalau dia itu ganteng banget sampai bisa buat
jantung setiap cewek deg-deg an. Gue jadi udah nggak sabar pengen ketemu sama
dia. Apa bener sih dia kayak yang di bilang semua orang?” batinnya.
List panjang di lembar note nya ke lima memang bukan
ia yang menulis. Tapi si Putri. Dari awal Adel sudah menyetujui ia akan
menggantikannya, tapi ia tidak ingin berurusan dengan menulis daftar pertanyaan
ini. Ia hanya ingin tinggal mengajukan pertanyaannya saja. Dan untungnya Putri
dan Sandra menyetujuinya. Beberapa jam sebelum keberangkatannya, Putri mengirim
list question lewat chat dan setelah itu Adel tinggal menyalinnya ulang di lembar
note nya.
Adel tahu betul alasan kenapa perusahannya memilih
model itu untuk di wawancarai. Dari yang Adel dengar dari Sandra dan Putri,
model itu sedang booming, wajahnya tampan dan belakangan ini ia juga sedang di
kontrak berbagai macam iklan. Tapi yang membuatnya tidak habis pikir adalah
pertanyaan di nomor delapan. Si Putri menulis pertanyaan yang menanyakan
masalah pribadi si model, ‘apa kamu sudah
memiliki seorang pacar sekarang atau kamu sedang dekat dengan seseorang?’.
Adel mendengus pelan membacanya. Bagimana bisa Putri menyuruhnya mengajukan
pertanyaan seperti ini. Biarpun ia seorang model, ia kan juga mempunyai
privasi.
“Sudah sampai Mbak” seruan si supir taxi membuat Adel
terhenyak lalu mengalihkan pandangannya sebentar keluar jendela dan detik itu
ia baru menyadari kalau sekitarnya bukan lagi gedung bertingkat tapi kompleks
perumahan elite.
Selesai membayar uang Taxi, Adel pun perlahan turun.
Ia berdiri sebentar memandangi rumah di hadapanya. Satu kata di pikirannya
yaitu rumah begitu minimalis dengan cat putih nya. Tapi ia belum tahu seperti
apa di dalamnya. Kadang don’t judge by
the cover itu memang perlu. Setelah melewati pintu pagar, dirinya bertemu
dengan taman kecil –di sebelah kiri-yang ditengahnya terdapat kolam ikan. Adel
sempat melongok, memeriksa ikan-ikan itu berwarna apa sebelum akhirnya ia sudah
berdiri di depan pintu rumah itu.
Sebelum ia mengetuk pintu, Dua menit ia pakai untuk
seledar merapikan apa yang membaluti tubuhnya. Ditariknya jaket hijau untanya
sampai sikut. Dirapikannya rambut cokelat tua nya yang hari ini ia kuncir ke
atas. Entahlah, apakah yang dilakukannya ini penting atau tidak tapi ia ingin
tampak rapih di depan model itu –bukan untuk ajang caper tapi PROFESIONALITAS.
Tok....Tok...Tok....tiga kali ia mengetuk pintu
ber-cat senada dengan dindingnya. Tapi tidak juga ada orang yang membukakannya
setelahnya. Sekali lagi ia mengetuk, dengan ritme lebih keras. Namun,
harapannya luntur. Detik berikutnya, ia merutuki diri sendiri tatkala matanya
melihat bel di atas kanannya. Ah sial. Setelahnya, ia memencet bel
itu. Bunyinya begitu nyaring. Tapi hal itu tidak membuat si pemilik rumah
membukakannya pintu. Apa dia lagi pergi ya, batinnya.
Karena penasaran, Adel pun menempelkan kedua matanya
melihat suasana dalam rumah dari balik celah korden yang sedikit tersingkap.
Tampak sepi. Sampai akhirnya ia pun menempelkan telinga kanannya di depan
pintu. Mungkin saja ia bisa mendengar suara-suara keberadaan si pemilik. Tapi
di detik berikutnya, tiba-tiba pintu itu terbuka. Spontan Adel pun terhuyung ke
samping. Dan ia sudah bersiap kemungkinan terburuk. Terantuk lantai. Tapi anehnya
tubuh dan kepalanya tidak sakit karena terantuk lantai. Malahan ia merasa
tubuhnya sekarang begitu enteng. Sontak saja, ia mengangkat kepalanya pelan dan
mendapati wajah tampan yang berkeringat. Dan setelahnya, Adel membulatkan mata
shock kala didapatinya tangan kekar tengah menahan badannya. Refleks secepat
kilat, Adel menegakkan badannya lagi dan
menyingkir cepat.
.......
“Maaf, tapi aku udah ada janji dengan Nathan.
Mendingan kamu panggil dia cepetan ya” kata Adel ketika pria itu menggiringnya
masuk ke ruang tengah. Jujur, ternyata don’t
judge by the cover itu betul. Begitu Adel digiring masuk oleh pria itu,
dalam rumah ini berbanding terbalik dengan ekpekastasi rumah yang minimalis.
Ruang tamunya begitu LUAS. Dan ada banyak lukisan abstrak di dindingnya.
Bukannya balas menjawab. Pria itu malah tertawa.
“Kamu pasti si Adel itu kan. Yang mau wawancarain saya”
Adel menatap tajam pria itu. “Iya. Trus kenapa kamu
ketawa gitu. Emang aku salah apa” katanya sedikit ketus seraya menaruh sebelah
tangannya di pinggang.
“Hey, saya ini yang mau di wawancarain kamu. Saya
NATHAN” sahut Pria itu dengan penekanan di akhir kata dan tatapan serius.
Adel menautkan kedua alisnya samar, memanyunkan
bibirnya, memandang pria itu dari atas sampai bawah. Kalau di perhatikan
baik-baik, mana ada seorang model yang berpenampilan begitu. Bagaimana bisa ia
percaya kalau pria itu saja mengenakan celemek dapur berwarna pink polkadot,
bando pink yang membuat rambut depannya tersisir kebelakang serta kaos putih
yang ada noda bekas minyak, kecap dan mungkin juga...saos yang berwarna merah
itu.
Menangkap keraguan di wajah gadis itu. Pria itu pun
membalikkan badan ke rak setinggi dua meter di belakangnya. Diambilnya foto miliknya
di rak kedua dari atas lalu berbalik kembali menghadap Adel sambil
mensejajarkannya tepat di samping wajahnya, meniru gaya di foto itu –yang
tengah tersenyum- sekalian menyuruh gadis itu melihat baik-baik kesamaan di
foto dengan pria itu.
Selang beberapa detik kemudian, Adel tampak mengangguk-angguk
pelan. “Sepertinya kamu memang Nathan” gumamnya pelan. Namun, pria itu bisa
mendengar ucapannya jelas dan langsung berkata. “Aku memang Nathan tahu”
“Oke. Aku percaya. Kalau gitu ayo kita mulai” Adel
menepuk kedua tangannya, sebagai tanda memulai wawancara. Ia kemudian berpindah
duduk di sofa panjang dan mengambil note, pulpen dan perekam suara di tasnya.
Setelah itu, ia menaruh perekam suara itu ke atas meja. Memegang pulpen di
tangan kanannya dan note dengan lembaran kosong di pangkuannya. “Jadi...” Adel
memandang Nathan yang masih berdiri diam di tempatnya. Ia mengingatkan Nathan
untuk duduk. Tapi tanpa berkata apapun,
Nathan malah berjalan ke belakang.
Lalu, tak lama Nathan kembali dengan wajah yang lebih
fress. Kaosnya pun sudah berganti. Tidak ada lagi noda minyak, kecap ataupun
saus. Sekarang penampilannya sudah meyakinkan gadis itu kalau ia memang seorang
model. Dengan kaos hitam pendek dan tatanan rambut yang sepertinya sudah ia rapikan
tadi.
........
“Udah nggak ada
pertanyaan lagi?” tanya Nathan memastikan, ia tidak ingin setelah ini gadis itu
menghubunginya lagi karena lupa ada pertanyaan yang belum diajukannya seperti
yang pernah dialaminya sebelum-sebelumnya.
Adel menggeleng. “Sudah cukup. Baiklah. Terimakasih
atas kerja samanya”. Adel menyunggingkan senyum singkat sebelum ia beranjak
dari sofa. Tapi saat ia sudah berbalik, tiba-tiba Nathan memanggilnya. Adel pun
berbalik menghadapnya. “Apa kita sebelumnya pernah bertemu?” tanya Nathan
seraya memandang baik-baik wajah gadis itu.
Adel menautkan kedua alisnya samar, tanda ia sedang
berpikir. Detik berikutnya, ia menggelengkan. Setelahnya, Nathan hanya
meng-oh-ria kan lalu mengantar gadis itu sampai ke pintu pagar. Setelah,
memastikan Adel sudah naik taxi. Nathan pun menutup pintu pagarnya dan kembali
masuk ke dalam. Ia berjalan menaiki anak tangga dan sampai di dalam kamarnya. Tepat
disaat itu, deringan lagu Don’t wanna
know –Marron V terdengar. Cepat-cepat ia meraih Hp nya di atas meja nakas
yang tertera di layarnya nama si penelfon yang dikenalinya itu. Bang Rendi.
Nathan mengambil duduk di pinggiran kasurnya sebelum ia mengangkat panggilan
itu.
“Hallo....Oh iya Bang. Sip. Oh sekarang? Oke deh”.
Panggilan itu diputus sepihak olehnya.
Kemudian, ia beranjak bangkit, mengambil handuk lalu berjalan ke kamar mandi.
..........
Sebelum pulang, Adel mampir dulu di Cafe
langganannya. Sudah lama ia tidak datang kemari dan tadi ketika taxi yang di
tumpanginya lewat di depannya, ia menyuruh si supir taxi berhenti di dekat Cafe
itu.
Adel duduk di pinggir dekat jendela. Itu
memudahkannya melihat langsung jalan raya yang cukup lengang di jam sepuluh-an.
Sebelumnya, ia sudah memesan hot latte, minuman favoritnya. Jadi sekarang ia
tinggal menunggu pesanannya datang. Dalam
keadaan begini memang cocoknya minum minuman yang panas seperti latte ditambah
whip cream diatasnya. Maksud Adel dalam ‘keadaan begini’ itu, bukan karena di
luar sedang di guyur hujan deras. Bahkan ia sangsi karena langit diluar begitu
cerah dan panas. Tapi ia hanya sekedar merilekskan dirinya saja. Entah kenapa
sepanjang ia melakukan sesi wawancara pada Nathan, ia begitu kagok dan hampir
seperti orang bodoh disana.
Bagaimana tidak, saat ia mengajukan pertanyaan nomor
delapan. ‘apa kamu sudah memiliki seorang
pacar sekarang atau kamu sedang dekat dengan seseorang?’’. Sontak saja
ekspresi wajah Nathan berubah seketika. Yang tadinya ia tertawa karena habis
melontarkan joke –yang tidak cukup lucu bagi Adel- setelahnya ia langsung
terdiam. Dan mengatakan skip untuk pertanyaan itu. Dan ketika Adel sempat
menyinggungnya di akhir mereka wawancara, pria itu cepat menyadarinya dan malah
mengalihkan ke topik lain –dia bercerita soal masa kecilnya.
Adel menjatuhkan kepalanya ke atas meja, menimbulkan
suara antukan kecil yang tidak menarik perhatian para pengunjung Cafe. Ia
menghembuskan napas berat. Sementara, otaknya berpikir keras tentang apa yang
akan ia katakan pada Sandra ataupun Putri. Adel berani bertaruh seratus ribu
kalau dari semua list question itu pertanyaan nomor delapan lah yang paling
mereka inginkan. Dan sialnya, ia tidak mendapatkannya.
“ Ini mbak hot latte pesanannya” seruan seorang pria
berhasil membuatnya mengangkat sedikit kepalanya, menolah malas ke arah pria
tinggi dengan celemek orange yang melingkar di badannya. Sontak Adel langsung
menegapkan tubuhya lagi tatkala menyadari pria itu yang ternyata pramusaji
membawakan pesanannya di sebelah tangannya.
Adel mengucapkan terimakasih setelahnya. Sebelum
pramusaji itu berlalu, ia sempat melihatnya mengulas senyum pada dirinya. Oh,
apaan itu?
Tapi Adel lebih memilih tidak ingin memikirkannya. Oh,
kepalanya sungguh berdenyut. Hari kedua nya di kota ini sudah membuatnya kehabisan
energi dan lelah. Adel pun segera
menyesap hot latte nya. Ada perasaan lega ketika cairan berwarna caramel itu
sukses melewati kerongkongannya.
Oh....It’s good.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar