Minggu, 12 Februari 2017

Be Enchanted 2

BAB DUA


`              Note...Pulpen...Pensil...Perekam suara. Apalagi ya....Ah, Hp !

                Adel sedang menjejerkan semua barang yang akan dibawanya di atas kasurnya. Tidak boleh ada satu pun barang yang tertinggal, itulah mottonya. Lalu, setelah ia rasa semua barang yang dibutuhkannya lengkap langsung saja ia memasukkannya ke dalam tas ranselnya.

`              Dan hampir saja, ia melupakan satu barang yang paling penting kalau ia tidak menge-check kembali meja belajarnya. Power bank. Camkan kalau benda itu yang paling MUTLAK harus ada di dalam tasnya. Terutama disaat-saat ia dalam keadaan kepepet dan baterai Hp nya tertera angka 5%. Uh, itu posisi paling mengerikan...

                “Oma....Adel pergi dulu ya” pamitnya seraya mencomot roti selai kacang yang tersedia di atas piringnya lalu meneguk setengah segelas susu putih disamping piringnya.

                “Heh, Adel. Makan dulu sini” cegah Oma, melihat cucu nya itu yang sedang terburu-buru.

                “Maaf Oma. Tapi Adel udah telat nih. Bye Oma”. Telat. Adel sudah duluan melambaikan tangannya pergi sebelum Oma Linda sempat mencegahnya lagi. Oma Linda hanya geleng-geleng kepala di kursinya, tahu kelakukan cucunya itu tidak pernah berubah sama sekali. Tapi biarpun begitu, Oma Linda tidak pernah memarahi sikap Adel yang selebor gitu. Baginya Adel adalah cucu satu-satunya sekaligus kesayangannya.

                Di depan pintu pagar,Adel berdiri menunggu taxi online yang sudah di pesannya tadi sambil mengunyah roti selai kacangnya.  

.......

                Di dalam taxi, ia sedang membuka isi note nya. Memeriksa ulang daftar pertanyaan yang akan diajukannya nanti. Entah kenapa sekarang ia malah merasa gugup. Dan juga kedua tangannya berubah dingin. Tapi bukannya itu wajar, pasalnya ia kan bukan seorang wartawan. Sebagai editor majalah, ia sama sekali tidak pernah bertugas mewancarai seseorang. Ia terbiasa bekerja di balik meja dan kalau bukan Sandra, bos nya yang juga sahabatnya memintanya menggantikan Putri. Pasti ia tidak akan pernah mau menerima job ini.  

                “Nama gue Adela Putri Wijaya. Dan sebentar lagi gue bakal wawancarain seorang model yang lagi tenar. Namanya Nathaniel Refando. Gue sih nggak begitu tahu orangnya kayak gimana. Tapi banyak yang bilang kalau dia itu ganteng banget sampai bisa buat jantung setiap cewek deg-deg an. Gue jadi udah nggak sabar pengen ketemu sama dia. Apa bener sih dia kayak yang di bilang semua orang?” batinnya.

                List panjang di lembar note nya ke lima memang bukan ia yang menulis. Tapi si Putri. Dari awal Adel sudah menyetujui ia akan menggantikannya, tapi ia tidak ingin berurusan dengan menulis daftar pertanyaan ini. Ia hanya ingin tinggal mengajukan pertanyaannya saja. Dan untungnya Putri dan Sandra menyetujuinya. Beberapa jam sebelum keberangkatannya, Putri mengirim list question lewat chat dan setelah itu Adel tinggal menyalinnya ulang di lembar note nya.  

                Adel tahu betul alasan kenapa perusahannya memilih model itu untuk di wawancarai. Dari yang Adel dengar dari Sandra dan Putri, model itu sedang booming, wajahnya tampan dan belakangan ini ia juga sedang di kontrak berbagai macam iklan. Tapi yang membuatnya tidak habis pikir adalah pertanyaan di nomor delapan. Si Putri menulis pertanyaan yang menanyakan masalah pribadi si model, ‘apa kamu sudah memiliki seorang pacar sekarang atau kamu sedang dekat dengan seseorang?’. Adel mendengus pelan membacanya. Bagimana bisa Putri menyuruhnya mengajukan pertanyaan seperti ini. Biarpun ia seorang model, ia kan juga mempunyai privasi.

                “Sudah sampai Mbak” seruan si supir taxi membuat Adel terhenyak lalu mengalihkan pandangannya sebentar keluar jendela dan detik itu ia baru menyadari kalau sekitarnya bukan lagi gedung bertingkat tapi kompleks perumahan elite.

                Selesai membayar uang Taxi, Adel pun perlahan turun. Ia berdiri sebentar memandangi rumah di hadapanya. Satu kata di pikirannya yaitu rumah begitu minimalis dengan cat putih nya. Tapi ia belum tahu seperti apa di dalamnya. Kadang don’t judge by the cover itu memang perlu. Setelah melewati pintu pagar, dirinya bertemu dengan taman kecil –di sebelah kiri-yang ditengahnya terdapat kolam ikan. Adel sempat melongok, memeriksa ikan-ikan itu berwarna apa sebelum akhirnya ia sudah berdiri di depan pintu rumah itu.

                Sebelum ia mengetuk pintu, Dua menit ia pakai untuk seledar merapikan apa yang membaluti tubuhnya. Ditariknya jaket hijau untanya sampai sikut. Dirapikannya rambut cokelat tua nya yang hari ini ia kuncir ke atas. Entahlah, apakah yang dilakukannya ini penting atau tidak tapi ia ingin tampak rapih di depan model itu –bukan untuk ajang caper tapi PROFESIONALITAS.

                Tok....Tok...Tok....tiga kali ia mengetuk pintu ber-cat senada dengan dindingnya. Tapi tidak juga ada orang yang membukakannya setelahnya. Sekali lagi ia mengetuk, dengan ritme lebih keras. Namun, harapannya luntur. Detik berikutnya, ia merutuki diri sendiri tatkala matanya melihat bel di atas kanannya.  Ah sial. Setelahnya, ia memencet bel itu. Bunyinya begitu nyaring. Tapi hal itu tidak membuat si pemilik rumah membukakannya pintu.  Apa dia lagi pergi ya, batinnya.

                Karena penasaran, Adel pun menempelkan kedua matanya melihat suasana dalam rumah dari balik celah korden yang sedikit tersingkap. Tampak sepi. Sampai akhirnya ia pun menempelkan telinga kanannya di depan pintu. Mungkin saja ia bisa mendengar suara-suara keberadaan si pemilik. Tapi di detik berikutnya, tiba-tiba pintu itu terbuka. Spontan Adel pun terhuyung ke samping. Dan ia sudah bersiap kemungkinan terburuk. Terantuk lantai. Tapi anehnya tubuh dan kepalanya tidak sakit karena terantuk lantai. Malahan ia merasa tubuhnya sekarang begitu enteng. Sontak saja, ia mengangkat kepalanya pelan dan mendapati wajah tampan yang berkeringat. Dan setelahnya, Adel membulatkan mata shock kala didapatinya tangan kekar tengah menahan badannya. Refleks secepat kilat, Adel menegakkan badannya lagi  dan menyingkir cepat.

.......

                “Maaf, tapi aku udah ada janji dengan Nathan. Mendingan kamu panggil dia cepetan ya” kata Adel ketika pria itu menggiringnya masuk ke ruang tengah. Jujur, ternyata don’t judge by the cover itu betul. Begitu Adel digiring masuk oleh pria itu, dalam rumah ini berbanding terbalik dengan ekpekastasi rumah yang minimalis. Ruang tamunya begitu LUAS. Dan ada banyak lukisan abstrak di dindingnya.

                Bukannya balas menjawab. Pria itu malah tertawa. “Kamu pasti si Adel itu kan. Yang mau wawancarain saya”

                Adel menatap tajam pria itu. “Iya. Trus kenapa kamu ketawa gitu. Emang aku salah apa” katanya sedikit ketus seraya menaruh sebelah tangannya di pinggang.  

                “Hey, saya ini yang mau di wawancarain kamu. Saya NATHAN” sahut Pria itu dengan penekanan di akhir kata dan tatapan serius.  

                Adel menautkan kedua alisnya samar, memanyunkan bibirnya, memandang pria itu dari atas sampai bawah. Kalau di perhatikan baik-baik, mana ada seorang model yang berpenampilan begitu. Bagaimana bisa ia percaya kalau pria itu saja mengenakan celemek dapur berwarna pink polkadot, bando pink yang membuat rambut depannya tersisir kebelakang serta kaos putih yang ada noda bekas minyak, kecap dan mungkin juga...saos yang berwarna merah itu.

                Menangkap keraguan di wajah gadis itu. Pria itu pun membalikkan badan ke rak setinggi dua meter di belakangnya. Diambilnya foto miliknya di rak kedua dari atas lalu berbalik kembali menghadap Adel sambil mensejajarkannya tepat di samping wajahnya, meniru gaya di foto itu –yang tengah tersenyum- sekalian menyuruh gadis itu melihat baik-baik kesamaan di foto dengan pria itu.  

                Selang beberapa detik kemudian, Adel tampak mengangguk-angguk pelan. “Sepertinya kamu memang Nathan” gumamnya pelan. Namun, pria itu bisa mendengar ucapannya jelas dan langsung berkata.  “Aku memang Nathan tahu”

                “Oke. Aku percaya. Kalau gitu ayo kita mulai” Adel menepuk kedua tangannya, sebagai tanda memulai wawancara. Ia kemudian berpindah duduk di sofa panjang dan mengambil note, pulpen dan perekam suara di tasnya. Setelah itu, ia menaruh perekam suara itu ke atas meja. Memegang pulpen di tangan kanannya dan note dengan lembaran kosong di pangkuannya. “Jadi...” Adel memandang Nathan yang masih berdiri diam di tempatnya. Ia mengingatkan Nathan untuk duduk.  Tapi tanpa berkata apapun, Nathan malah berjalan ke belakang.

                Lalu, tak lama Nathan kembali dengan wajah yang lebih fress. Kaosnya pun sudah berganti. Tidak ada lagi noda minyak, kecap ataupun saus. Sekarang penampilannya sudah meyakinkan gadis itu kalau ia memang seorang model. Dengan kaos hitam pendek dan tatanan rambut yang sepertinya sudah ia rapikan tadi.

........

                “Udah nggak ada pertanyaan lagi?” tanya Nathan memastikan, ia tidak ingin setelah ini gadis itu menghubunginya lagi karena lupa ada pertanyaan yang belum diajukannya seperti yang pernah dialaminya sebelum-sebelumnya.

                Adel menggeleng. “Sudah cukup. Baiklah. Terimakasih atas kerja samanya”. Adel menyunggingkan senyum singkat sebelum ia beranjak dari sofa. Tapi saat ia sudah berbalik, tiba-tiba Nathan memanggilnya. Adel pun berbalik menghadapnya. “Apa kita sebelumnya pernah bertemu?” tanya Nathan seraya memandang baik-baik wajah gadis itu.

                Adel menautkan kedua alisnya samar, tanda ia sedang berpikir. Detik berikutnya, ia menggelengkan. Setelahnya, Nathan hanya meng-oh-ria kan lalu mengantar gadis itu sampai ke pintu pagar. Setelah, memastikan Adel sudah naik taxi. Nathan pun menutup pintu pagarnya dan kembali masuk ke dalam. Ia berjalan menaiki anak tangga dan sampai di dalam kamarnya. Tepat disaat itu, deringan lagu Don’t wanna know –Marron V terdengar. Cepat-cepat ia meraih Hp nya di atas meja nakas yang tertera di layarnya nama si penelfon yang dikenalinya itu. Bang Rendi. Nathan mengambil duduk di pinggiran kasurnya sebelum ia mengangkat panggilan itu.

                “Hallo....Oh iya Bang. Sip. Oh sekarang? Oke deh”. Panggilan  itu diputus sepihak olehnya. Kemudian, ia beranjak bangkit, mengambil handuk lalu berjalan ke kamar mandi.

..........

                Sebelum pulang, Adel mampir dulu di Cafe langganannya. Sudah lama ia tidak datang kemari dan tadi ketika taxi yang di tumpanginya lewat di depannya, ia menyuruh si supir taxi berhenti di dekat Cafe itu.

                Adel duduk di pinggir dekat jendela. Itu memudahkannya melihat langsung jalan raya yang cukup lengang di jam sepuluh-an. Sebelumnya, ia sudah memesan hot latte, minuman favoritnya. Jadi sekarang ia tinggal menunggu pesanannya datang.  Dalam keadaan begini memang cocoknya minum minuman yang panas seperti latte ditambah whip cream diatasnya. Maksud Adel dalam ‘keadaan begini’ itu, bukan karena di luar sedang di guyur hujan deras. Bahkan ia sangsi karena langit diluar begitu cerah dan panas. Tapi ia hanya sekedar merilekskan dirinya saja. Entah kenapa sepanjang ia melakukan sesi wawancara pada Nathan, ia begitu kagok dan hampir seperti orang bodoh disana.

                Bagaimana tidak, saat ia mengajukan pertanyaan nomor delapan. ‘apa kamu sudah memiliki seorang pacar sekarang atau kamu sedang dekat dengan seseorang?’’. Sontak saja ekspresi wajah Nathan berubah seketika. Yang tadinya ia tertawa karena habis melontarkan joke –yang tidak cukup lucu bagi Adel- setelahnya ia langsung terdiam. Dan mengatakan skip untuk pertanyaan itu. Dan ketika Adel sempat menyinggungnya di akhir mereka wawancara, pria itu cepat menyadarinya dan malah mengalihkan ke topik lain –dia bercerita soal masa kecilnya.

                Adel menjatuhkan kepalanya ke atas meja, menimbulkan suara antukan kecil yang tidak menarik perhatian para pengunjung Cafe. Ia menghembuskan napas berat. Sementara, otaknya berpikir keras tentang apa yang akan ia katakan pada Sandra ataupun Putri. Adel berani bertaruh seratus ribu kalau dari semua list question itu pertanyaan nomor delapan lah yang paling mereka inginkan. Dan sialnya, ia tidak mendapatkannya.

                “ Ini mbak hot latte pesanannya” seruan seorang pria berhasil membuatnya mengangkat sedikit kepalanya, menolah malas ke arah pria tinggi dengan celemek orange yang melingkar di badannya. Sontak Adel langsung menegapkan tubuhya lagi tatkala menyadari pria itu yang ternyata pramusaji membawakan pesanannya di sebelah tangannya.

                Adel mengucapkan terimakasih setelahnya. Sebelum pramusaji itu berlalu, ia sempat melihatnya mengulas senyum pada dirinya. Oh, apaan itu?

                Tapi Adel lebih memilih tidak ingin memikirkannya. Oh, kepalanya sungguh berdenyut. Hari kedua nya di kota ini sudah membuatnya kehabisan  energi dan lelah. Adel pun segera menyesap hot latte nya. Ada perasaan lega ketika cairan berwarna caramel itu sukses melewati kerongkongannya.


                Oh....It’s good.....

Be Enchanted 1


BAB SATU
           

                 Terhanyut aku akan nostalgia                

                 saat kita sering luangkan waktu                

                 nikmati bersama...                

                 suasana Jogja...


                Lantunan lagu dari KLA Project mengalun lembut di seluruh speaker Bandara Adi Sucipto, mengisyaratkan ucapan selamat datang yang di peruntukkan bagi para penumpang yang baru landing. Sebagian mereka yang merupakan turis asing setelah melewati pintu pemeriksaan berjalan lambat sambil mendecak senang karena merasa seperti di istimewakan –walau mereka tidak tahu itu lagu apa dan siapa yang menyanyikannya.  

                Tapi tidak begitu dengan para turis lokal yang lebih memilih buru-buru berjalan ke pintu keluar Bandara. Dan diantara mereka, nampak seorang gadis muda yang berjalan pelan sambil menarik koper hitam besar di tangan kanannya. Setiap dua langkah sekali, ia selalu menghela napas panjang. Bukan karena beratnya koper yang ia tarik tapi dari raut wajah gadis itu yang tidak cukup senang jika harus menginjakkan kaki di kota ini lagi.

                Kemudian, langkahnya terhenti ketika melewati pintu luar bandara. Hanya satu meter lagi dari tempatnya berdiri dengan jalanan aspal di depannya. Tapi entah kenapa gadis itu malah memilih berhenti ketika semua orang di sekitarnya mempercepat jalannya, masuk ke dalam mobil yang bergantian berhenti tepat di depan pintu masuk bandara atau berjalan keluar bandara –menunggu taxi datang. Dan sekali lagi gadis itu menghela napas. Entah itu sudah yang ke berapa kalinya.           

            Gadis itu menggeser kopernya ke sisi kanannya supaya lebih aman. Lalu,sebelah tangannya bergerak melepas headphone putih yang daritadi terpasang di kedua telinganya dan mencabut kabelnya dari ujung ipod biru miliknya. Kemudian, menyimpannya ke dalam tas ransel kecil yang di selampirkannya tadi ke sebelah bahunya. Gadis itu kemudian membenarkan lagi lengan ransel di punggungnya. Lalu, matanya bergerak turun mengamati benda-benda yang yang membalut tubuh mungilnya. Bisa dibilang perpaduan yang dikenakan gadis itu tidak terlalu buruk. Cukup chiamic....

                Kaos putih polkadot merah yang ditimpal dengan jumpsuit denim, sneakers putih, jam tangan gucci hitam di pergelangan kirinya dan beberapa gelang plastik warna-warni yang melingkar di tangan kirinya. Dengan rambut cokelatnya yang di cepol tapi sedikit berantakan serta poni yang menutupi seluruh dahinya.

            Lima menit berlalu, menyisakan ia dan dua pria yang masih berdiri di luar pintu bandara. Tapi hanya ia satu-satunya yang tidak sedang menunggu apapun. Karena dua pria itu sama-sama tampak tengah menunggu sesuatu. Pria pertama yang berdiri beberapa langkah di depannya terlihat sangat gusar dan sesekali ia mendecakkan lidah sambil bergumam sesuatu. Sementara, pria kedua yang berdiri menyandar di tiang sebelah pria pertama tengah sibuk dengan ponsel di telinganya. Sepertinya pria itu telah memesan taxi online tapi karena taxi yang dipesannya tidak datang juga akhirnya ia terus-terusan menelfon si supir taxi.  

                Tak lama, sebuah sedan hitam berhenti persis di depan kedua pria itu. Lalu, seorang pria paruh baya turun dari kursi kemudi dan berjalan ke arah pria pertama, membawa masuk koper hitam ke dalam bagasi. Lalu, gantian membukakan pintu belakang yang disusul pria pertama masuk ke dalamnya. Setelah pria pertama itu masuk dan menutup kembali pintu, pria paruh baya itu pun membuka pintu kemudi dan duduk. Mobil itu pun melaju pergi. Gadis itu terus memandangi mobil itu sambil menyeringai sampai mobil itu menghilang di loket pembayaran.

                Selang bebearap detik setelahnya, sebuah taxi berwarna hijau pun datang. Tampak jelas guratan senang di wajahnya kala si supir berjalan ke arahnya. Setelah bercakap sebentar, supir itu membawa koper pria itu ke dalam bagasi, bersamaan dengan pria itu yang duduk di kursi belakang. Kemudian, disusul si supir yang duduk di kursi kemudi.  Gadis itu gantian memandangi belakang taxi itu dengan ulasan senyum di bibirnya hingga taxi itu juga menghilang setelah di loket pembayaran.

                Dan sekarang giliran gadis itu yang sudah harus beranjak pergi darisana. Karena jam pun sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dia tak ingin terlalu lama disini dengan ditemani udara malam yang berhembus dingin ke arahnya. Gadis itu kurang menyukai  hawa yang seperti itu. Dan saat gadis itu mulai menyeret kopernya dan mulai berjalan. Tiba-tiba seseorang menubruk keras bahunya. Membuatnya mengerang keras sambil memegangi bahunya , mengaduh kesakitan.

                Detik kemudian, kedua matanya berpapasan langsung dengan seorang pria yang berdiri di depannya. Gadis itu ingin melayangkan protesannya. Tapi kemudian ditundanya kala dilihatnya si pria menutup sebagian wajahnya dengan topi, kacamata hitam dan masker. Sulit bagi gadis itu melihat jelas si pria yang menabraknya itu.

                “Maaf ya mbak....maaf...saya lagi buru-buru. Maaf....”kata pria itu kemudian berlalu. Sementara, gadis itu menautkan kedua alisnya sambil mendengus kasar –tanda ia tengah kesal. Dasar cowok nggak tahu diri, umpatnya dalam hati.

                Setelahnya, gadis itu memilih cepat-cepat pergi sebelum suasana hatinya bertambah buruk. Di hari pertama ia tiba saja, sudah ada kejadian seperti tadi. Bagaimana besok, apa lagi yang akan terjadi. Tidak tahu. Gadis itu lebih memilih tidak ingin memikirkannya.

........

                “ Ah, dimana sih” gerutu seorang pria berpostur tinggi dan berwajah putih tampan sambil merogoh-rogoh kantung celana dan jaketnya..Tapi tetap saja ia tidak menemukan benda yang ia cari itu. Dimana sih itu?

                Sampai ia mengobrak-abrik isi koper dan tasnya. Tapi benda yang dicarinya juga tidak ada. Akhirnya ia berpikir sebentar, mengatur ulang isi memorinya. Tiga hari lalu, saat ia berangkat...di hotel...saat ia di dalam pesawat dan tadi saat di taxi....tidak. Pria itu menggeleng cepat. Ia sama sekali tidak merasa meninggalkan benda itu. Lalu... Ah, ingat!!, pria itu berseru kegirangan. Lalu  disusul suara tawa yangpecah  keluar dari mulutnya. Bahkan sampai ia hampir ingin menangis.

                “Ya iyalah nggak bakal ketemu. Orang waktu berangkatnya aja gue lupa bawa”katanya seraya menepuk dahinya pelan sambil tertawa lagi. Menertawai dirinya sendiri. Bego banget sih gue

                Setelah merapikan isi koper dan tasnya. Pria itu berdiri diam lagi, berpikir. Karena dari awal ia tidak membawa kunci pagar rumahnya. Jadi apa sekarang ia harus memanjat pagar rumahnya sendiri? Apa harus....tapi kalau ada orang lain yang melihatnya nanti ia bisa dikira maling. Tapi kalau bukan gitu, ia akan menginap di luar. Dan setelah cukup lama bergelut dengan pilihannya, juga sudah melihat situasi di kanan-kirinya yang aman. Ia pun memilih memanjat pagarnya sendiri.

                Pertama, ia melempar tas nya yang berukuran sedang. Itu mudah karena sangat enteng. Tapi giliran koper hitamnya. Ia tampak mendesah berat. Ia bingung bagaimana mengangkat koper besar hitam itu melewati pintu pagar yang terkunci itu. Belum lagi benturannya bakal terdengar keras membentur aspal. Jadi?. Bola matanya mencari-cari cepat sebuah benda yang bisa membantunya. Hingga kedua matanya menjatuhkan pandang pada seutas tali yang tidak terpakai di taman depan rumahnya. Aha...gue punya ide, batinnya girang seraya menjetikkan sebelah jarinya. 

                Setelahnya, ia langsung mengambil tali itu yang panjangnya sekitar dua meter. kemudian, mengikatkan ujungnya kencang di pegangan kopernya. Lalu, mengangkatnya hati-hati karena beratnya yang hampir seperempat dari berat tubuhnya. Dan saat kopernya sudah melewati atas pintu pagar, ia menahannya sebentar dengan tali itu. Ia memanjat pintu pagarnya lalu mulai menurunkan kopernya pelan dengan tali itu dari atas. Mirip seperti menurunkan ember ke dalam sumur.  Huft...akhirnya berhasil. Ia menyeka keringatnya di dahi dengan kerah bajunya.

                Dan sekarang giliran ia sendiri yang harus melewati pagar itu. Tapi itu tidak terlalu sulit. Karena ia suka sekali menonton film action. Dan film terakhir yang ia tonton kebetulan adalah Bad Boys II. Jadi, ia pikir ini tidak akan berbeda jauh dengan action para aktor di film itu. Tanpa berlama-lama lagi, segera ia menaiki pintu pagar itu. Ketika sudah sampai atas,  baru ia meloncat, mirip seperti yang dilakukan Will Smith. Dan hap, dengan cepat ia sudah berpijak di dalam pintu pagar rumahnya.

                Ia tertawa bangga atas dirinya sendiri. Lalu, mengambil tas dan kopernya masuk ke dalam rumah bercat putih itu sambil bersenandung pelan.

........

                Taxi yang membawa gadis itu sampai di depan sebuah rumah yang dikelilingi dinding batu bata. Setelah membayar uang taxi, gadis itu pun turun. Sambil menarik kopernya, ia membuka pintu pagar yang terbuat dari kayu, berjalan masuk di jalanan bebatuan yang tersusun rapih.  Di sekitarnya  terdapat  taman yang cukup lebar yang ditumbuhi rumput-rumput kecil, dua pohon mangga besar di sisi kanan-kiri dan beberapa tanaman di pot-pot yang tersusun rapih di sebuah rak terbuat dari bambu.

                Gadis itu menaiki tiga anak tangga sebelum mencapai di depan pintu rumah bergaya adat jawa itu. “Oma...oma....” gadis itu berseru memanggil si pemilik rumah sambil mengetuk-ngetuk. Sayangnya, di rumah itu tidak ada bel yang bisa membuat si pemilik rumah tahu ada tamu datang. Jadinya, terpaksa ia harus menunggu cukup lama sampai pintu yang di ketuknya itu terbuka.  

                Tiga menit kemudian, pintu bergaya adat jawa itu tertarik ke belakang. Seorang wanita paruh baya muncul di baliknya. Wanita itu diam sesaat, kedua alisnya bertaut  menatap tajam ke arah gadis itu. Kemudian, ditaruhnya kacamata berlensa tebal yang tergantung di lehernya ke atas hidung mancungnya. Begitu melihat jelas siapa gadis yang berdiri di hadapannya itu, wanita itu pun langsung mengulas senyum bahagia. “ Adel...Adel cucu Oma?”. Wajahnya yang sudah mengeriput tetap tidak bisa menghillangkan guratan terkejutnya.

                Gadis yang bernama Adel itu tersenyum menganguk. “Iya Oma ini Adel” kata Adel seraya menghamburkan tubuhnya memeluk wanita paruh baya yang dipanggilnya Oma itu.

                Wanita paruh baya itu –Oma Linda adalah Ibu dari Mamanya. Beliau sempat tinggal bersama Adel dan mamanya di Jakarta. Tapi sejak sepuluh tahun lalu, beliau berpindah tinggal di Jogja. Katanya Oma Linda ingin menghabiskan waktu tuanya di kota kelahirannya ini. Dan rumah yang ditempatinya kini adalah rumahnya sendiri, sekaligus rumah tempat mamanya di besarkan dan Adel di lahirkan.

                “Kenapa nggak bilang kalau mau kesini toh Del?” tanya Oma Linda dari dalam dapur. Sementara, Adel sudah duduk menyandar sambil menyelonjorkan kakinya ke atas meja di ruang tamu.

                “Iya Oma, Adel lupa”

                Ralat. Sebenarnya ia tidak lupa. Ia sengaja tidak memberitahu Oma nya ketika datang kemari. Itu karena awalnya ia ingin menginap di homestay atau hotel tapi ketika di pesawat tadi entah kenapa ia jadi berubah pikiran dan akhirnya memutuskan menetap sebentar di rumah Oma nya.  

                “Yaudah. Sekarang kamu mau makan apa istirahat. Kalau makan ambil di tempat biasa ya Del” kata Oma sekembalinya dari dapur sambil membawa segelas susu putih.

                “Nggak deh Oma. Adel langsung ke kamar aja. Lagian ini udah malem. Makasih ya Oma susu nya”. Tangan kanannya mengambil segelas susu putih dari tangan Oma nya. Sementara, tangan kirinya menarik koper hitamnya sembari berjalan ke kamarnya yang tepat di dekat anak tangga terakhir.

                Begitu ia menyalakan lampu kamarnya. Dinding ber-cat biru muda itu langsung terespon cepat ke retina matanya. Nuasansa dingin juga langsung terasa di tubuh kecilnya.  Tapi yang tidak kalah ketinggalan bau apek seperti ruangan yang lama tidak dihuni juga mendominasi indra penciumannya. Ya...kalau dihitung sih sudah setahun lebih kamar ini tidak ditempatinya. Alasannya? Sangat simple tapi Adel malas memberitahunya karena itu juga yang menjadi alasan pentingnya kenapa ia sangat malas mendatangi kota ini lagi.

                Adel menyeret kopernya ke pinggir ranjangnya dan menaruh tas ransel nya di atasnya. Lalu, meletakkan segelas susuk di atas meja nakasnya. Hah, sekarang tinggal memasang sprei di kasurnya. Kemudian, baru ia bisa tidur dengan nyenyak. Tanpa berpikir panjang lagi. Ia mulai membuka lemarinya dan menarik keluar sprei berwarna biru dongker juga. It’s time....

......

                “Uh, capeknya” kata Adel seraya merebahkan tubuhnya ke atas kasurnya yang sudah terbalut sprei biru dongket, menyeka bulir keringat di dahinya dengan punggung tangannya.  

                Rasa capeknya setelah merapikan kamarnya tadi ditambah suasana kamarnya yang sudah nyaman dan tidak bau apek lagi, langsung merangsang matanya untuk terpejam tapi Adel harus menundanya dulu tatkala ia mendengar lagu Radioactif Imagine Dragon yang di-set nya menjadi nada dering ponselnya. Membuatnya terpaksa bangkit dan merogoh ke dalam tas kecilnya.

                Dan sialnya, settingan di Hp nya itu kalau panggilannya nggak di angkat-angkat deringannya malah makin keras. Yang membuatnya seperti menonton live konser Dan Reynolds cs  di kamarnya. Adel menggerakkan cepat tangannya manakala suara deringannya itu bertambah makin keras. Adel  mengeluarkan kata serapah –kebun binatang dan kotoran manusia keluar- tatkala gendang telinganya dirasakannya hampir pecah dan detik itu juga ia bersumpah bakal mengganti nada deringnya setelah ini.

                Nggak menemukan benda yang dicarinya di seleting belakang. Adel langsung cepat-cepat berpindah tangan ke kantung bagian depan tasnya. Adel mengucap syukur dan bernapas lega setelahnya tatkala benda ber-touchscreen itu berhasil ditemukannya. Cepat-cepat ia menggeser lock screen-nya sebelum Oma nya datang dan mengomelinya karena keberisikan yang dibuatnya malam-malam. Setelahnya, ia menggeser panel hijau di layar Hp nya  lalu menempelkannya ke sebelah telinganya. “Hallo” sapa suara cewek di ujung sana.

                Tapi Adel tidak langsung menyahutnya  karena tadi ia lupa melihat nama atau nomor yang orang yang menghubunginya. Mudah-mudahan aja ini bukan telfon iseng, pikirnya.  

                Adel menyeringai singkat kala ia mendengar suara si penelfon di detik berikutnya. Suara cempreng di ujung sana, siapa lagi yang bisa bicara sperti itu padanya selain dia. Sudah pasti ini sahabatnya, Sandra –si cerewet itu.

                “Ya, udah. Kenapa emang?” tanya balik Adel dengan nada malas.

                “Eh, kenapa kedengarannya lo kayak nggak seneng gitu gua telfon” cibir Sandra di ujung sana. Gimana nggak, lo nelfonnya di waktu yang nggak tepat San, batinnya menggerutu.

                Baru Adel ingin membalasnya. Tahu-tahu Sandra duluan menyelanya. “Eh, udah lupain aja. Lo udah tahu kan besok kayak gimananya?” . Hal yang paling disukainya itu yaitu mengganti topik pembicaraan tiba-tiba.

                “Iya, udah kok” gumamnya pelan seraya mendudukkan pantatnya di pinggiran kasur empuknya. Lalu, meraih segelas susu di meja sampingnya dan meneguknya pelan.

                “Oke sip. Gua Cuma nanya gitu aja. Bye Del. Tidur yang nyenyak ya. Mwuahh” Panggilan itu langsung diputuskan sepihak oleh si penelfon. Adel geleng-geleng kepala sambil menatap ponselnya yang sudah mati sebentar. Ada perasaan geli sekaligus jijik mendengar sahabatnya itu melayangkan ciumannya di telfon. ‘Ih apa-apaan sih nih anak’ batinnya. Lalu, menaruh ponselnya lagi ke sembarang kasurnya.


                Adel menaruh segelas susu tadi ke atas meja setelah meneguk habis isinya. Matanya sudah meronta-ronta untuk di pejamkan. Tanpa mencuci wajah dan mengganti baju yang dikenakannya. Hanya melepas sneakers dan kaos kakinya serta melepas cepolannya dan menguraikan rambutnya  dengan tangan asal. Adel langsung memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di bawah selimut biru dongkernya. Setelahnya, hanya dalam hitungan detik Adel sudah menyelam indah ke alam tidurnya.