BAB SATU
Terhanyut aku akan nostalgia
saat kita sering luangkan waktu
nikmati bersama...
suasana
Jogja...
Lantunan lagu dari KLA Project mengalun lembut di seluruh
speaker Bandara Adi Sucipto, mengisyaratkan ucapan selamat datang yang di
peruntukkan bagi para penumpang yang baru landing. Sebagian mereka yang
merupakan turis asing setelah melewati pintu pemeriksaan berjalan lambat sambil
mendecak senang karena merasa seperti di istimewakan –walau mereka tidak tahu
itu lagu apa dan siapa yang menyanyikannya.
Tapi
tidak begitu dengan para turis lokal yang lebih memilih buru-buru berjalan ke
pintu keluar Bandara. Dan diantara mereka, nampak seorang gadis muda yang
berjalan pelan sambil menarik koper hitam besar di tangan kanannya. Setiap dua langkah
sekali, ia selalu menghela napas panjang. Bukan karena beratnya koper yang ia tarik
tapi dari raut wajah gadis itu yang tidak cukup senang jika harus menginjakkan
kaki di kota ini lagi.
Kemudian, langkahnya terhenti ketika melewati pintu
luar bandara. Hanya satu meter lagi dari tempatnya berdiri dengan jalanan aspal
di depannya. Tapi entah kenapa gadis itu malah memilih berhenti ketika semua
orang di sekitarnya mempercepat jalannya, masuk ke dalam mobil yang bergantian
berhenti tepat di depan pintu masuk bandara atau berjalan keluar bandara
–menunggu taxi datang. Dan sekali lagi gadis itu menghela napas. Entah itu
sudah yang ke berapa kalinya.
Gadis itu menggeser kopernya ke sisi kanannya supaya lebih aman. Lalu,sebelah
tangannya bergerak melepas headphone putih yang daritadi terpasang di kedua
telinganya dan mencabut kabelnya dari ujung ipod biru miliknya. Kemudian, menyimpannya
ke dalam tas ransel kecil yang di selampirkannya tadi ke sebelah bahunya. Gadis
itu kemudian membenarkan lagi lengan ransel di punggungnya. Lalu, matanya
bergerak turun mengamati benda-benda yang yang membalut tubuh mungilnya. Bisa
dibilang perpaduan yang dikenakan gadis itu tidak terlalu buruk. Cukup
chiamic....
Kaos putih polkadot merah yang ditimpal dengan
jumpsuit denim, sneakers putih, jam tangan gucci hitam di pergelangan kirinya
dan beberapa gelang plastik warna-warni yang melingkar di tangan kirinya. Dengan
rambut cokelatnya yang di cepol tapi sedikit berantakan serta poni yang
menutupi seluruh dahinya.
Lima menit berlalu, menyisakan ia dan dua pria yang masih berdiri di luar pintu bandara. Tapi
hanya ia satu-satunya yang tidak sedang menunggu apapun. Karena dua pria itu
sama-sama tampak tengah menunggu sesuatu. Pria pertama yang berdiri beberapa
langkah di depannya terlihat sangat gusar dan sesekali ia mendecakkan lidah
sambil bergumam sesuatu. Sementara, pria kedua yang berdiri menyandar di tiang sebelah
pria pertama tengah sibuk dengan ponsel di telinganya. Sepertinya pria itu
telah memesan taxi online tapi karena taxi yang dipesannya tidak datang juga
akhirnya ia terus-terusan menelfon si supir taxi.
Tak lama, sebuah sedan hitam berhenti persis di depan
kedua pria itu. Lalu, seorang pria paruh baya turun dari kursi kemudi dan berjalan
ke arah pria pertama, membawa masuk koper hitam ke dalam bagasi. Lalu, gantian
membukakan pintu belakang yang disusul pria pertama masuk ke dalamnya. Setelah
pria pertama itu masuk dan menutup kembali pintu, pria paruh baya itu pun
membuka pintu kemudi dan duduk. Mobil itu pun melaju pergi. Gadis itu terus
memandangi mobil itu sambil menyeringai sampai mobil itu menghilang di loket
pembayaran.
Selang bebearap detik setelahnya, sebuah taxi
berwarna hijau pun datang. Tampak jelas guratan senang di wajahnya kala si
supir berjalan ke arahnya. Setelah bercakap sebentar, supir itu membawa koper
pria itu ke dalam bagasi, bersamaan dengan pria itu yang duduk di kursi
belakang. Kemudian, disusul si supir yang duduk di kursi kemudi. Gadis itu gantian memandangi belakang taxi
itu dengan ulasan senyum di bibirnya hingga taxi itu juga menghilang setelah di
loket pembayaran.
Dan sekarang giliran gadis itu yang sudah harus
beranjak pergi darisana. Karena jam pun sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Dia tak ingin terlalu lama disini dengan ditemani udara malam yang berhembus
dingin ke arahnya. Gadis itu kurang menyukai
hawa yang seperti itu. Dan saat gadis itu mulai menyeret kopernya dan
mulai berjalan. Tiba-tiba seseorang menubruk keras bahunya. Membuatnya mengerang
keras sambil memegangi bahunya , mengaduh kesakitan.
Detik kemudian, kedua matanya berpapasan langsung dengan
seorang pria yang berdiri di depannya. Gadis itu ingin melayangkan protesannya.
Tapi kemudian ditundanya kala dilihatnya si pria menutup sebagian wajahnya
dengan topi, kacamata hitam dan masker. Sulit bagi gadis itu melihat jelas si
pria yang menabraknya itu.
“Maaf ya mbak....maaf...saya lagi buru-buru.
Maaf....”kata pria itu kemudian berlalu. Sementara, gadis itu menautkan kedua
alisnya sambil mendengus kasar –tanda ia tengah kesal. Dasar cowok nggak tahu diri, umpatnya dalam hati.
Setelahnya, gadis itu memilih cepat-cepat pergi sebelum
suasana hatinya bertambah buruk. Di hari pertama ia tiba saja, sudah ada
kejadian seperti tadi. Bagaimana besok, apa lagi yang akan terjadi. Tidak tahu.
Gadis itu lebih memilih tidak ingin memikirkannya.
........
“ Ah, dimana sih” gerutu seorang pria berpostur
tinggi dan berwajah putih tampan sambil merogoh-rogoh kantung celana dan
jaketnya..Tapi tetap saja ia tidak menemukan benda yang ia cari itu. Dimana sih itu?
Sampai ia mengobrak-abrik isi koper dan tasnya. Tapi
benda yang dicarinya juga tidak ada. Akhirnya ia berpikir sebentar, mengatur
ulang isi memorinya. Tiga hari lalu, saat ia berangkat...di hotel...saat ia di
dalam pesawat dan tadi saat di taxi....tidak. Pria itu menggeleng cepat. Ia
sama sekali tidak merasa meninggalkan benda itu. Lalu... Ah, ingat!!, pria itu
berseru kegirangan. Lalu disusul suara
tawa yangpecah keluar dari mulutnya.
Bahkan sampai ia hampir ingin menangis.
“Ya iyalah nggak bakal ketemu. Orang waktu berangkatnya
aja gue lupa bawa”katanya seraya menepuk dahinya pelan sambil tertawa lagi.
Menertawai dirinya sendiri. Bego banget
sih gue
Setelah merapikan isi koper dan tasnya. Pria itu
berdiri diam lagi, berpikir. Karena dari awal ia tidak membawa kunci pagar rumahnya.
Jadi apa sekarang ia harus memanjat pagar rumahnya sendiri? Apa harus....tapi
kalau ada orang lain yang melihatnya nanti ia bisa dikira maling. Tapi kalau
bukan gitu, ia akan menginap di luar. Dan setelah cukup lama bergelut dengan
pilihannya, juga sudah melihat situasi di kanan-kirinya yang aman. Ia pun
memilih memanjat pagarnya sendiri.
Pertama, ia melempar tas nya yang berukuran sedang.
Itu mudah karena sangat enteng. Tapi giliran koper hitamnya. Ia tampak mendesah
berat. Ia bingung bagaimana mengangkat koper besar hitam itu melewati pintu
pagar yang terkunci itu. Belum lagi benturannya bakal terdengar keras membentur
aspal. Jadi?. Bola matanya mencari-cari cepat sebuah benda yang bisa
membantunya. Hingga kedua matanya menjatuhkan pandang pada seutas tali yang
tidak terpakai di taman depan rumahnya. Aha...gue
punya ide, batinnya girang seraya menjetikkan sebelah jarinya.
Setelahnya, ia langsung mengambil tali itu yang
panjangnya sekitar dua meter. kemudian, mengikatkan ujungnya kencang di
pegangan kopernya. Lalu, mengangkatnya hati-hati karena beratnya yang hampir
seperempat dari berat tubuhnya. Dan saat kopernya sudah melewati atas pintu
pagar, ia menahannya sebentar dengan tali itu. Ia memanjat pintu pagarnya lalu
mulai menurunkan kopernya pelan dengan tali itu dari atas. Mirip seperti
menurunkan ember ke dalam sumur. Huft...akhirnya berhasil. Ia menyeka
keringatnya di dahi dengan kerah bajunya.
Dan sekarang giliran ia sendiri yang harus melewati
pagar itu. Tapi itu tidak terlalu sulit. Karena ia suka sekali menonton film
action. Dan film terakhir yang ia tonton kebetulan adalah Bad Boys II. Jadi, ia pikir ini tidak akan berbeda jauh dengan
action para aktor di film itu. Tanpa berlama-lama lagi, segera ia menaiki pintu
pagar itu. Ketika sudah sampai atas,
baru ia meloncat, mirip seperti yang dilakukan Will Smith. Dan hap, dengan cepat ia sudah berpijak di dalam pintu
pagar rumahnya.
Ia tertawa bangga atas dirinya sendiri. Lalu,
mengambil tas dan kopernya masuk ke dalam rumah bercat putih itu sambil
bersenandung pelan.
........
Taxi yang membawa gadis itu sampai di depan sebuah
rumah yang dikelilingi dinding batu bata. Setelah membayar uang taxi, gadis itu
pun turun. Sambil menarik kopernya, ia membuka pintu pagar yang terbuat dari
kayu, berjalan masuk di jalanan bebatuan yang tersusun rapih. Di sekitarnya
terdapat taman yang cukup lebar yang
ditumbuhi rumput-rumput kecil, dua pohon mangga besar di sisi kanan-kiri dan
beberapa tanaman di pot-pot yang tersusun rapih di sebuah rak terbuat dari
bambu.
Gadis itu menaiki tiga anak tangga sebelum mencapai
di depan pintu rumah bergaya adat jawa itu. “Oma...oma....” gadis itu berseru
memanggil si pemilik rumah sambil mengetuk-ngetuk. Sayangnya, di rumah itu
tidak ada bel yang bisa membuat si pemilik rumah tahu ada tamu datang. Jadinya,
terpaksa ia harus menunggu cukup lama sampai pintu yang di ketuknya itu
terbuka.
Tiga menit kemudian, pintu bergaya adat jawa itu tertarik
ke belakang. Seorang wanita paruh baya muncul di baliknya. Wanita itu diam
sesaat, kedua alisnya bertaut menatap
tajam ke arah gadis itu. Kemudian, ditaruhnya kacamata berlensa tebal yang tergantung
di lehernya ke atas hidung mancungnya. Begitu melihat jelas siapa gadis yang
berdiri di hadapannya itu, wanita itu pun langsung mengulas senyum bahagia. “
Adel...Adel cucu Oma?”. Wajahnya yang sudah mengeriput tetap tidak bisa
menghillangkan guratan terkejutnya.
Gadis yang bernama Adel itu tersenyum menganguk. “Iya
Oma ini Adel” kata Adel seraya menghamburkan tubuhnya memeluk wanita paruh baya
yang dipanggilnya Oma itu.
Wanita paruh baya itu –Oma Linda adalah Ibu dari
Mamanya. Beliau sempat tinggal bersama Adel dan mamanya di Jakarta. Tapi sejak
sepuluh tahun lalu, beliau berpindah tinggal di Jogja. Katanya Oma Linda ingin
menghabiskan waktu tuanya di kota kelahirannya ini. Dan rumah yang ditempatinya
kini adalah rumahnya sendiri, sekaligus rumah tempat mamanya di besarkan dan
Adel di lahirkan.
“Kenapa nggak bilang kalau mau kesini toh Del?” tanya
Oma Linda dari dalam dapur. Sementara, Adel sudah duduk menyandar sambil
menyelonjorkan kakinya ke atas meja di ruang tamu.
“Iya Oma, Adel lupa”
Ralat. Sebenarnya ia tidak lupa. Ia sengaja tidak
memberitahu Oma nya ketika datang kemari. Itu karena awalnya ia ingin menginap
di homestay atau hotel tapi ketika di pesawat tadi entah kenapa ia jadi berubah
pikiran dan akhirnya memutuskan menetap sebentar di rumah Oma nya.
“Yaudah. Sekarang kamu mau makan apa istirahat. Kalau
makan ambil di tempat biasa ya Del” kata Oma sekembalinya dari dapur sambil membawa
segelas susu putih.
“Nggak deh Oma. Adel langsung ke kamar aja. Lagian
ini udah malem. Makasih ya Oma susu nya”. Tangan kanannya mengambil segelas
susu putih dari tangan Oma nya. Sementara, tangan kirinya menarik koper
hitamnya sembari berjalan ke kamarnya yang tepat di dekat anak tangga terakhir.
Begitu ia menyalakan lampu kamarnya. Dinding ber-cat
biru muda itu langsung terespon cepat ke retina matanya. Nuasansa dingin juga
langsung terasa di tubuh kecilnya. Tapi
yang tidak kalah ketinggalan bau apek seperti ruangan yang lama tidak dihuni
juga mendominasi indra penciumannya. Ya...kalau dihitung sih sudah setahun
lebih kamar ini tidak ditempatinya. Alasannya? Sangat simple tapi Adel malas
memberitahunya karena itu juga yang menjadi alasan pentingnya kenapa ia sangat
malas mendatangi kota ini lagi.
Adel menyeret kopernya ke pinggir ranjangnya dan
menaruh tas ransel nya di atasnya. Lalu, meletakkan segelas susuk di atas meja nakasnya.
Hah, sekarang tinggal memasang sprei di kasurnya. Kemudian, baru ia bisa tidur
dengan nyenyak. Tanpa berpikir panjang lagi. Ia mulai membuka lemarinya dan
menarik keluar sprei berwarna biru dongker juga. It’s time....
......
“Uh, capeknya” kata Adel seraya merebahkan tubuhnya
ke atas kasurnya yang sudah terbalut sprei biru dongket, menyeka bulir keringat
di dahinya dengan punggung tangannya.
Rasa capeknya setelah merapikan kamarnya tadi
ditambah suasana kamarnya yang sudah nyaman dan tidak bau apek lagi, langsung
merangsang matanya untuk terpejam tapi Adel harus menundanya dulu tatkala ia
mendengar lagu Radioactif –Imagine Dragon yang di-set nya menjadi
nada dering ponselnya. Membuatnya terpaksa bangkit dan merogoh ke dalam tas
kecilnya.
Dan sialnya, settingan di Hp nya itu kalau
panggilannya nggak di angkat-angkat deringannya malah makin keras. Yang membuatnya
seperti menonton live konser Dan Reynolds cs di kamarnya. Adel menggerakkan cepat
tangannya manakala suara deringannya itu bertambah makin keras. Adel mengeluarkan kata serapah –kebun binatang dan
kotoran manusia keluar- tatkala gendang telinganya dirasakannya hampir pecah dan
detik itu juga ia bersumpah bakal mengganti nada deringnya setelah ini.
Nggak menemukan benda yang dicarinya di seleting
belakang. Adel langsung cepat-cepat berpindah tangan ke kantung bagian depan
tasnya. Adel mengucap syukur dan bernapas lega setelahnya tatkala benda ber-touchscreen itu berhasil ditemukannya.
Cepat-cepat ia menggeser lock screen-nya
sebelum Oma nya datang dan mengomelinya karena keberisikan yang dibuatnya
malam-malam. Setelahnya, ia menggeser panel hijau di layar Hp nya lalu menempelkannya ke sebelah telinganya.
“Hallo” sapa suara cewek di ujung sana.
Tapi Adel tidak langsung menyahutnya karena tadi ia lupa melihat nama atau nomor
yang orang yang menghubunginya. Mudah-mudahan
aja ini bukan telfon iseng, pikirnya.
Adel menyeringai singkat kala ia mendengar suara si
penelfon di detik berikutnya. Suara cempreng di ujung sana, siapa lagi yang bisa
bicara sperti itu padanya selain dia. Sudah pasti ini sahabatnya, Sandra –si
cerewet itu.
“Ya, udah. Kenapa emang?” tanya balik Adel dengan
nada malas.
“Eh, kenapa kedengarannya lo kayak nggak seneng gitu
gua telfon” cibir Sandra di ujung sana. Gimana
nggak, lo nelfonnya di waktu yang nggak tepat San, batinnya menggerutu.
Baru Adel ingin membalasnya. Tahu-tahu Sandra duluan
menyelanya. “Eh, udah lupain aja. Lo udah tahu kan besok kayak gimananya?” .
Hal yang paling disukainya itu yaitu mengganti topik pembicaraan tiba-tiba.
“Iya, udah kok” gumamnya pelan seraya mendudukkan
pantatnya di pinggiran kasur empuknya. Lalu, meraih segelas susu di meja
sampingnya dan meneguknya pelan.
“Oke sip. Gua Cuma nanya gitu aja. Bye Del. Tidur
yang nyenyak ya. Mwuahh” Panggilan itu langsung diputuskan sepihak oleh si
penelfon. Adel geleng-geleng kepala sambil menatap ponselnya yang sudah mati
sebentar. Ada perasaan geli sekaligus jijik mendengar sahabatnya itu
melayangkan ciumannya di telfon. ‘Ih
apa-apaan sih nih anak’ batinnya. Lalu, menaruh ponselnya lagi ke sembarang
kasurnya.
Adel menaruh segelas susu tadi ke atas meja setelah
meneguk habis isinya. Matanya sudah meronta-ronta untuk di pejamkan. Tanpa
mencuci wajah dan mengganti baju yang dikenakannya. Hanya melepas sneakers dan
kaos kakinya serta melepas cepolannya dan menguraikan rambutnya dengan tangan asal. Adel langsung
memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di bawah selimut biru dongkernya.
Setelahnya, hanya dalam hitungan detik Adel sudah menyelam indah ke alam
tidurnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar