Minggu, 12 Februari 2017

Be Enchanted 1


BAB SATU
           

                 Terhanyut aku akan nostalgia                

                 saat kita sering luangkan waktu                

                 nikmati bersama...                

                 suasana Jogja...


                Lantunan lagu dari KLA Project mengalun lembut di seluruh speaker Bandara Adi Sucipto, mengisyaratkan ucapan selamat datang yang di peruntukkan bagi para penumpang yang baru landing. Sebagian mereka yang merupakan turis asing setelah melewati pintu pemeriksaan berjalan lambat sambil mendecak senang karena merasa seperti di istimewakan –walau mereka tidak tahu itu lagu apa dan siapa yang menyanyikannya.  

                Tapi tidak begitu dengan para turis lokal yang lebih memilih buru-buru berjalan ke pintu keluar Bandara. Dan diantara mereka, nampak seorang gadis muda yang berjalan pelan sambil menarik koper hitam besar di tangan kanannya. Setiap dua langkah sekali, ia selalu menghela napas panjang. Bukan karena beratnya koper yang ia tarik tapi dari raut wajah gadis itu yang tidak cukup senang jika harus menginjakkan kaki di kota ini lagi.

                Kemudian, langkahnya terhenti ketika melewati pintu luar bandara. Hanya satu meter lagi dari tempatnya berdiri dengan jalanan aspal di depannya. Tapi entah kenapa gadis itu malah memilih berhenti ketika semua orang di sekitarnya mempercepat jalannya, masuk ke dalam mobil yang bergantian berhenti tepat di depan pintu masuk bandara atau berjalan keluar bandara –menunggu taxi datang. Dan sekali lagi gadis itu menghela napas. Entah itu sudah yang ke berapa kalinya.           

            Gadis itu menggeser kopernya ke sisi kanannya supaya lebih aman. Lalu,sebelah tangannya bergerak melepas headphone putih yang daritadi terpasang di kedua telinganya dan mencabut kabelnya dari ujung ipod biru miliknya. Kemudian, menyimpannya ke dalam tas ransel kecil yang di selampirkannya tadi ke sebelah bahunya. Gadis itu kemudian membenarkan lagi lengan ransel di punggungnya. Lalu, matanya bergerak turun mengamati benda-benda yang yang membalut tubuh mungilnya. Bisa dibilang perpaduan yang dikenakan gadis itu tidak terlalu buruk. Cukup chiamic....

                Kaos putih polkadot merah yang ditimpal dengan jumpsuit denim, sneakers putih, jam tangan gucci hitam di pergelangan kirinya dan beberapa gelang plastik warna-warni yang melingkar di tangan kirinya. Dengan rambut cokelatnya yang di cepol tapi sedikit berantakan serta poni yang menutupi seluruh dahinya.

            Lima menit berlalu, menyisakan ia dan dua pria yang masih berdiri di luar pintu bandara. Tapi hanya ia satu-satunya yang tidak sedang menunggu apapun. Karena dua pria itu sama-sama tampak tengah menunggu sesuatu. Pria pertama yang berdiri beberapa langkah di depannya terlihat sangat gusar dan sesekali ia mendecakkan lidah sambil bergumam sesuatu. Sementara, pria kedua yang berdiri menyandar di tiang sebelah pria pertama tengah sibuk dengan ponsel di telinganya. Sepertinya pria itu telah memesan taxi online tapi karena taxi yang dipesannya tidak datang juga akhirnya ia terus-terusan menelfon si supir taxi.  

                Tak lama, sebuah sedan hitam berhenti persis di depan kedua pria itu. Lalu, seorang pria paruh baya turun dari kursi kemudi dan berjalan ke arah pria pertama, membawa masuk koper hitam ke dalam bagasi. Lalu, gantian membukakan pintu belakang yang disusul pria pertama masuk ke dalamnya. Setelah pria pertama itu masuk dan menutup kembali pintu, pria paruh baya itu pun membuka pintu kemudi dan duduk. Mobil itu pun melaju pergi. Gadis itu terus memandangi mobil itu sambil menyeringai sampai mobil itu menghilang di loket pembayaran.

                Selang bebearap detik setelahnya, sebuah taxi berwarna hijau pun datang. Tampak jelas guratan senang di wajahnya kala si supir berjalan ke arahnya. Setelah bercakap sebentar, supir itu membawa koper pria itu ke dalam bagasi, bersamaan dengan pria itu yang duduk di kursi belakang. Kemudian, disusul si supir yang duduk di kursi kemudi.  Gadis itu gantian memandangi belakang taxi itu dengan ulasan senyum di bibirnya hingga taxi itu juga menghilang setelah di loket pembayaran.

                Dan sekarang giliran gadis itu yang sudah harus beranjak pergi darisana. Karena jam pun sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Dia tak ingin terlalu lama disini dengan ditemani udara malam yang berhembus dingin ke arahnya. Gadis itu kurang menyukai  hawa yang seperti itu. Dan saat gadis itu mulai menyeret kopernya dan mulai berjalan. Tiba-tiba seseorang menubruk keras bahunya. Membuatnya mengerang keras sambil memegangi bahunya , mengaduh kesakitan.

                Detik kemudian, kedua matanya berpapasan langsung dengan seorang pria yang berdiri di depannya. Gadis itu ingin melayangkan protesannya. Tapi kemudian ditundanya kala dilihatnya si pria menutup sebagian wajahnya dengan topi, kacamata hitam dan masker. Sulit bagi gadis itu melihat jelas si pria yang menabraknya itu.

                “Maaf ya mbak....maaf...saya lagi buru-buru. Maaf....”kata pria itu kemudian berlalu. Sementara, gadis itu menautkan kedua alisnya sambil mendengus kasar –tanda ia tengah kesal. Dasar cowok nggak tahu diri, umpatnya dalam hati.

                Setelahnya, gadis itu memilih cepat-cepat pergi sebelum suasana hatinya bertambah buruk. Di hari pertama ia tiba saja, sudah ada kejadian seperti tadi. Bagaimana besok, apa lagi yang akan terjadi. Tidak tahu. Gadis itu lebih memilih tidak ingin memikirkannya.

........

                “ Ah, dimana sih” gerutu seorang pria berpostur tinggi dan berwajah putih tampan sambil merogoh-rogoh kantung celana dan jaketnya..Tapi tetap saja ia tidak menemukan benda yang ia cari itu. Dimana sih itu?

                Sampai ia mengobrak-abrik isi koper dan tasnya. Tapi benda yang dicarinya juga tidak ada. Akhirnya ia berpikir sebentar, mengatur ulang isi memorinya. Tiga hari lalu, saat ia berangkat...di hotel...saat ia di dalam pesawat dan tadi saat di taxi....tidak. Pria itu menggeleng cepat. Ia sama sekali tidak merasa meninggalkan benda itu. Lalu... Ah, ingat!!, pria itu berseru kegirangan. Lalu  disusul suara tawa yangpecah  keluar dari mulutnya. Bahkan sampai ia hampir ingin menangis.

                “Ya iyalah nggak bakal ketemu. Orang waktu berangkatnya aja gue lupa bawa”katanya seraya menepuk dahinya pelan sambil tertawa lagi. Menertawai dirinya sendiri. Bego banget sih gue

                Setelah merapikan isi koper dan tasnya. Pria itu berdiri diam lagi, berpikir. Karena dari awal ia tidak membawa kunci pagar rumahnya. Jadi apa sekarang ia harus memanjat pagar rumahnya sendiri? Apa harus....tapi kalau ada orang lain yang melihatnya nanti ia bisa dikira maling. Tapi kalau bukan gitu, ia akan menginap di luar. Dan setelah cukup lama bergelut dengan pilihannya, juga sudah melihat situasi di kanan-kirinya yang aman. Ia pun memilih memanjat pagarnya sendiri.

                Pertama, ia melempar tas nya yang berukuran sedang. Itu mudah karena sangat enteng. Tapi giliran koper hitamnya. Ia tampak mendesah berat. Ia bingung bagaimana mengangkat koper besar hitam itu melewati pintu pagar yang terkunci itu. Belum lagi benturannya bakal terdengar keras membentur aspal. Jadi?. Bola matanya mencari-cari cepat sebuah benda yang bisa membantunya. Hingga kedua matanya menjatuhkan pandang pada seutas tali yang tidak terpakai di taman depan rumahnya. Aha...gue punya ide, batinnya girang seraya menjetikkan sebelah jarinya. 

                Setelahnya, ia langsung mengambil tali itu yang panjangnya sekitar dua meter. kemudian, mengikatkan ujungnya kencang di pegangan kopernya. Lalu, mengangkatnya hati-hati karena beratnya yang hampir seperempat dari berat tubuhnya. Dan saat kopernya sudah melewati atas pintu pagar, ia menahannya sebentar dengan tali itu. Ia memanjat pintu pagarnya lalu mulai menurunkan kopernya pelan dengan tali itu dari atas. Mirip seperti menurunkan ember ke dalam sumur.  Huft...akhirnya berhasil. Ia menyeka keringatnya di dahi dengan kerah bajunya.

                Dan sekarang giliran ia sendiri yang harus melewati pagar itu. Tapi itu tidak terlalu sulit. Karena ia suka sekali menonton film action. Dan film terakhir yang ia tonton kebetulan adalah Bad Boys II. Jadi, ia pikir ini tidak akan berbeda jauh dengan action para aktor di film itu. Tanpa berlama-lama lagi, segera ia menaiki pintu pagar itu. Ketika sudah sampai atas,  baru ia meloncat, mirip seperti yang dilakukan Will Smith. Dan hap, dengan cepat ia sudah berpijak di dalam pintu pagar rumahnya.

                Ia tertawa bangga atas dirinya sendiri. Lalu, mengambil tas dan kopernya masuk ke dalam rumah bercat putih itu sambil bersenandung pelan.

........

                Taxi yang membawa gadis itu sampai di depan sebuah rumah yang dikelilingi dinding batu bata. Setelah membayar uang taxi, gadis itu pun turun. Sambil menarik kopernya, ia membuka pintu pagar yang terbuat dari kayu, berjalan masuk di jalanan bebatuan yang tersusun rapih.  Di sekitarnya  terdapat  taman yang cukup lebar yang ditumbuhi rumput-rumput kecil, dua pohon mangga besar di sisi kanan-kiri dan beberapa tanaman di pot-pot yang tersusun rapih di sebuah rak terbuat dari bambu.

                Gadis itu menaiki tiga anak tangga sebelum mencapai di depan pintu rumah bergaya adat jawa itu. “Oma...oma....” gadis itu berseru memanggil si pemilik rumah sambil mengetuk-ngetuk. Sayangnya, di rumah itu tidak ada bel yang bisa membuat si pemilik rumah tahu ada tamu datang. Jadinya, terpaksa ia harus menunggu cukup lama sampai pintu yang di ketuknya itu terbuka.  

                Tiga menit kemudian, pintu bergaya adat jawa itu tertarik ke belakang. Seorang wanita paruh baya muncul di baliknya. Wanita itu diam sesaat, kedua alisnya bertaut  menatap tajam ke arah gadis itu. Kemudian, ditaruhnya kacamata berlensa tebal yang tergantung di lehernya ke atas hidung mancungnya. Begitu melihat jelas siapa gadis yang berdiri di hadapannya itu, wanita itu pun langsung mengulas senyum bahagia. “ Adel...Adel cucu Oma?”. Wajahnya yang sudah mengeriput tetap tidak bisa menghillangkan guratan terkejutnya.

                Gadis yang bernama Adel itu tersenyum menganguk. “Iya Oma ini Adel” kata Adel seraya menghamburkan tubuhnya memeluk wanita paruh baya yang dipanggilnya Oma itu.

                Wanita paruh baya itu –Oma Linda adalah Ibu dari Mamanya. Beliau sempat tinggal bersama Adel dan mamanya di Jakarta. Tapi sejak sepuluh tahun lalu, beliau berpindah tinggal di Jogja. Katanya Oma Linda ingin menghabiskan waktu tuanya di kota kelahirannya ini. Dan rumah yang ditempatinya kini adalah rumahnya sendiri, sekaligus rumah tempat mamanya di besarkan dan Adel di lahirkan.

                “Kenapa nggak bilang kalau mau kesini toh Del?” tanya Oma Linda dari dalam dapur. Sementara, Adel sudah duduk menyandar sambil menyelonjorkan kakinya ke atas meja di ruang tamu.

                “Iya Oma, Adel lupa”

                Ralat. Sebenarnya ia tidak lupa. Ia sengaja tidak memberitahu Oma nya ketika datang kemari. Itu karena awalnya ia ingin menginap di homestay atau hotel tapi ketika di pesawat tadi entah kenapa ia jadi berubah pikiran dan akhirnya memutuskan menetap sebentar di rumah Oma nya.  

                “Yaudah. Sekarang kamu mau makan apa istirahat. Kalau makan ambil di tempat biasa ya Del” kata Oma sekembalinya dari dapur sambil membawa segelas susu putih.

                “Nggak deh Oma. Adel langsung ke kamar aja. Lagian ini udah malem. Makasih ya Oma susu nya”. Tangan kanannya mengambil segelas susu putih dari tangan Oma nya. Sementara, tangan kirinya menarik koper hitamnya sembari berjalan ke kamarnya yang tepat di dekat anak tangga terakhir.

                Begitu ia menyalakan lampu kamarnya. Dinding ber-cat biru muda itu langsung terespon cepat ke retina matanya. Nuasansa dingin juga langsung terasa di tubuh kecilnya.  Tapi yang tidak kalah ketinggalan bau apek seperti ruangan yang lama tidak dihuni juga mendominasi indra penciumannya. Ya...kalau dihitung sih sudah setahun lebih kamar ini tidak ditempatinya. Alasannya? Sangat simple tapi Adel malas memberitahunya karena itu juga yang menjadi alasan pentingnya kenapa ia sangat malas mendatangi kota ini lagi.

                Adel menyeret kopernya ke pinggir ranjangnya dan menaruh tas ransel nya di atasnya. Lalu, meletakkan segelas susuk di atas meja nakasnya. Hah, sekarang tinggal memasang sprei di kasurnya. Kemudian, baru ia bisa tidur dengan nyenyak. Tanpa berpikir panjang lagi. Ia mulai membuka lemarinya dan menarik keluar sprei berwarna biru dongker juga. It’s time....

......

                “Uh, capeknya” kata Adel seraya merebahkan tubuhnya ke atas kasurnya yang sudah terbalut sprei biru dongket, menyeka bulir keringat di dahinya dengan punggung tangannya.  

                Rasa capeknya setelah merapikan kamarnya tadi ditambah suasana kamarnya yang sudah nyaman dan tidak bau apek lagi, langsung merangsang matanya untuk terpejam tapi Adel harus menundanya dulu tatkala ia mendengar lagu Radioactif Imagine Dragon yang di-set nya menjadi nada dering ponselnya. Membuatnya terpaksa bangkit dan merogoh ke dalam tas kecilnya.

                Dan sialnya, settingan di Hp nya itu kalau panggilannya nggak di angkat-angkat deringannya malah makin keras. Yang membuatnya seperti menonton live konser Dan Reynolds cs  di kamarnya. Adel menggerakkan cepat tangannya manakala suara deringannya itu bertambah makin keras. Adel  mengeluarkan kata serapah –kebun binatang dan kotoran manusia keluar- tatkala gendang telinganya dirasakannya hampir pecah dan detik itu juga ia bersumpah bakal mengganti nada deringnya setelah ini.

                Nggak menemukan benda yang dicarinya di seleting belakang. Adel langsung cepat-cepat berpindah tangan ke kantung bagian depan tasnya. Adel mengucap syukur dan bernapas lega setelahnya tatkala benda ber-touchscreen itu berhasil ditemukannya. Cepat-cepat ia menggeser lock screen-nya sebelum Oma nya datang dan mengomelinya karena keberisikan yang dibuatnya malam-malam. Setelahnya, ia menggeser panel hijau di layar Hp nya  lalu menempelkannya ke sebelah telinganya. “Hallo” sapa suara cewek di ujung sana.

                Tapi Adel tidak langsung menyahutnya  karena tadi ia lupa melihat nama atau nomor yang orang yang menghubunginya. Mudah-mudahan aja ini bukan telfon iseng, pikirnya.  

                Adel menyeringai singkat kala ia mendengar suara si penelfon di detik berikutnya. Suara cempreng di ujung sana, siapa lagi yang bisa bicara sperti itu padanya selain dia. Sudah pasti ini sahabatnya, Sandra –si cerewet itu.

                “Ya, udah. Kenapa emang?” tanya balik Adel dengan nada malas.

                “Eh, kenapa kedengarannya lo kayak nggak seneng gitu gua telfon” cibir Sandra di ujung sana. Gimana nggak, lo nelfonnya di waktu yang nggak tepat San, batinnya menggerutu.

                Baru Adel ingin membalasnya. Tahu-tahu Sandra duluan menyelanya. “Eh, udah lupain aja. Lo udah tahu kan besok kayak gimananya?” . Hal yang paling disukainya itu yaitu mengganti topik pembicaraan tiba-tiba.

                “Iya, udah kok” gumamnya pelan seraya mendudukkan pantatnya di pinggiran kasur empuknya. Lalu, meraih segelas susu di meja sampingnya dan meneguknya pelan.

                “Oke sip. Gua Cuma nanya gitu aja. Bye Del. Tidur yang nyenyak ya. Mwuahh” Panggilan itu langsung diputuskan sepihak oleh si penelfon. Adel geleng-geleng kepala sambil menatap ponselnya yang sudah mati sebentar. Ada perasaan geli sekaligus jijik mendengar sahabatnya itu melayangkan ciumannya di telfon. ‘Ih apa-apaan sih nih anak’ batinnya. Lalu, menaruh ponselnya lagi ke sembarang kasurnya.


                Adel menaruh segelas susu tadi ke atas meja setelah meneguk habis isinya. Matanya sudah meronta-ronta untuk di pejamkan. Tanpa mencuci wajah dan mengganti baju yang dikenakannya. Hanya melepas sneakers dan kaos kakinya serta melepas cepolannya dan menguraikan rambutnya  dengan tangan asal. Adel langsung memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di bawah selimut biru dongkernya. Setelahnya, hanya dalam hitungan detik Adel sudah menyelam indah ke alam tidurnya. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar