Hai whats up??
Gue nulis lagi dengan korean romance story. Konfliknya sih lumayan lah. Tapi kayak judulnya 'marriage' so pasti tentang pernikahan. Eittt, tapi ini bukan tentang pernikahan yang lu bayangin. Ada kata 'unexpected' berarti nggak di duga-duga. Ayo apa maksudnya hahah
Oke....langsung aja. check this out....
read and commend ya, soalnya bagaimana pun juga gue masih penulis amatir yang masih butuh kritikan dan semacemnya. Okeee....bismillah....
~~
CHAP 1
Aku menarik napas panjang untuk
kesekian kalinya sebelum kedua kakiku menginjak di depan pintu kaca yang terbuka
otomatis sebuah gedung tinggi yang bertuliskan besar CM Ent.
Ku
akui ini seperti mimpi tatkala kedua mataku mengedar ke sekelilingku dan
menemukan bingkai-bingkai besar yang terpajang di dinding paling atas. Omo, cepat tampar wajahku kalau ini bukan
mimpi....
Satu
per satu foto ku perhatikan lekat-lekat dan mendecak kagum setelahnya.
Omo...Bagaimana
aku bisa menjelaskan perasaanku pada mu sekarang kalau aku sedang berdiri di
dalam gedung sebuah agensi yang
sudah menciptakan idol-idol terkenal
itu?
Hampir
saja aku akan meneteskan air mata
mengingat betapa besar perjuanganku hanya untuk menginjakkan kaki di
tempat ini kalau aku tidak melihat jarum jam yang terpajang di lobby. Aku hampir lupa kalau audisinya sepuluh
menit lagi....
Segera aku berjalan ke
bagian resepsionist. Disana duduk dua yeoja cantik di belakang meja setinggi
satu meter. Yeoja pertama yang berpakaian blouse ungu muda sedang memilah-milah
dokumen sementara yeoja satu lagi yang berpakaian blouse pink sedang menerima
telfon. Daebak, padahal tugasnya hanya seperti
itu tapi penampilan mereka...
“Permisi, ada yang bisa saya
bantu?”
Aku
terhenyak dari lamunanku dan menatap yeoja blouse ungu muda yang ternyata
bertanya padaku.
Malu-malu
aku menyerahkan map cokelat padanya.
“Oh,
kau ingin mengikuti audisi ya? ruangannya ada di lantai tiga. Setelah keluar
lift lalu belok kanan, di pintu ketiga dari lift. Hwaiting!”katanya tersenyum
sambil mengarahkanku dengan sebelah tangannya.
Aku
lalu melangkah pergi ke lift yang berada di pojok kananku setelah membungkuk
pada yeoja itu seraya mengucapkan terimakasih. Tidak lupa tadi aku mengulas
senyum selebarnya.
Ah, disinilah aku....inilah mimpiku sejak
lama. Aku tidak naif kalau aku sangat ingin menjadi seorang aktris. Untuk
itulah dua tahun lalu aku pergi ke Seoul untuk bekerja mengumpulkan uang dan
menyewa tempat tinggal disini. Itu akan mempermudahkan ku untuk mengikuti
audisi-audisi seperti ini.
Ah ne...aku sampai lupa memperkenalkan
diriku kan. Perkenalkan namaku Im Ha Neul. Mirip nama seorang aktris Kim Ha
Neul kan? Ah aniyo, tentu saja aku tidak secantik dia dan aku juga tidak pernah
bisa disandingkan dengannya. Itu karena eomma-ku sangat menyukainya. Mungkin
itulah dulu alasan eomma-ku menamaiku sama sepertinya. Ada-ada saja
eomma-ku....
Ini bukan audisi pertamaku. Aku
sudah pernah mencoba di tiga agensi sebelumnya. Tapi ini pertama kalinya aku
mencoba audisi di salah satu agensi terbesar di korea Selatan. Deg-deg-an sudah
pasti. Kira-kira berapa ya peluangku untukku bisa lolos? Ah aku tidak boleh
memikirkannya. Pokoknya aku harus melakukan semaksimal mungkin. Hwaiting Ha Neul
!!
Aku mendongak melihat ke
atas lift yang masih tertera angka enam dengan anak panah turun. Huftt...lama
sekali. Padahal aku sedang terburu-buru. Tepat disaat itu, aku mendengar suara-suara
berisik dari arah pintu masuk. Sontak aku berbalik dan mendapati banyak
wartawan yang sedang mengerubuni seseorang. Eh?
Keningku
berdenyit, bertanya-tanya siapa dia?. Tapi setelah itu aku langsung bersikap
acuh dan kembali pada kegiatanku sebelumnya. Lagipula wajar kalau ada hal
seperti itu disini. Mungkin saja dia salah satu artis asuhan agensi ini. Tapi
aku juga jadi sungguh kasihan padanya. Aku sampai membayangkan jika suatu hari
nanti aku seperti itu, apa yang akan kulakukan ya?. Para wartawan itu begitu
mengerikan, aku bergedik ngeri.
Selang
beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka. Aku langsung melangkah masuk dan
menekan angka tiga tatkala seorang namja berlari ke arahku sambil berseru
menyuruhku menahan pintu lift. Aku pun melakukannya. Dengan sebelah tanganku
aku memegangi pinggiran pintu lift. Mataku terbelalak kaget ketika ku tahu
namja itu berlari sambil merangkul seorang namja di sebelahnya. Mendekat ke
arahku bersamaan dengan flash-flash kamera dari para wartawan itu. Refleks aku
langsung menutup wajahku dengan map cokelat yang ku pegang.
Lalu
entah ke detik berapa aku mendengar pintu lift sudah tertutup dan tidak ada
suara berisik para wartawan itu. Aku lalu menurunkan tanganku perlahan dan
penglihatan yang kudapat sekarang adalah dua orang namja yang berdiri membelakangiku.
Aku memperhatikan tubuh mereka yang berpostur lebih tinggi dariku. Salah
satunya berpakaian begitu fashionable dengan topi hitam yang bertengger diatas
kepalanya.
“Hyung, aku tidak ingin ada seperti itu
lagi. Mereka terus menyodorku dengan pertanyaan yang bahkan belum sempat
kujawab”. Dari nada suaranya bisa kutebak kalau dia sedang kesal.
“Mau
bagaimana lagi, kalau mau kau harus cepat mencari seorang yeoja supaya mereka
tidak mengejarmu terus”
Lama
aku memperhatikan dua namja itu saling berbicara hingga salah satunya
membalikkan badan dan memandang ke...arahku melalui kacamata hitamnya. Omo, aku
hampir dibuat terkejut. Sepertinya dia baru menyadari keberadaanku di lift ini karena
tadi aku sempat melihat sebelah alisnya naik. Lalu, kulihat sebelah sudut
bibirnya terangkat ke atas. Glek. Aku menelan ludah keras. Dua orang namja dan
satu yeoja di dalam lift kecil ini. Oh no....
“Jeongmal
mianhe. Kejadian tadi pasti membuatmu kaget kan? sekali lagi jeongmal mianhe”. Dia
membungkuk di hadapanku. Lalu, namja di sebelahnya juga berbalik dan ikut membungkuk
padaku setelah di senggol oleh nya. Bisa kulihat jelas wajah namja itu yang
kutaksir dia adalah seorang ahjussi. Ah,
aku jadi salah tingkah gini....
Teng!
Pintu
lift terbuka, aku mendongak untuk memastikan aku benar berada di lantai tiga.
Dan saat aku ingin melangkah keluar ternyata dua orang namja tadi juga ikut
keluar. Ah jadi mereka juga ingin ke
lantai tiga, pantas tadi aku tidak melihat mereka memencet angka lift.
Mereka tidak mengatakan apapun
setelahnya. Tapi aku sempat melihat namja bertopi itu berbalik dan tersenyum
padaku sebelum pergi. Ku pandangi punggung mereka yang semakin menjauh dan
menghilang ketika masuk ke sebuah ruangan. Aku masih berdiri diam di tempatku
sampai aku sadar kalau aku harus segera bergegas pergi juga ke ruang audisi. Oh no.... aku harus cepat...Hwaiting, Ha
Neul!, batinku berbicara mantap seraya
mengepalkan sebelah tanganku ke
udara.
...........
Pabo...pabo...pabo
imnida....
Aku
menyumpahi diriku sendiri sambil menendang-nendang sebelah kakiku ke dinding pembatas
di lantai tiga yang hanya setinggi setengah badanku. Aku kesal, kalau ditambah
dengan tiga audisi ku yang gagal kemarin berarti ini sudah menjadi yang ke
empat.
Dan
tanpa kusadari bulir bening meluncur di
kedua pipiku tatkala aku lantas jatuh berjongkok dan menyandarkan keningku ke
dinding di depanku. Kedua tanganku menelungkup wajahku sembari meredam suara
tangisku supaya tidak terdengar.
Sampai
beberapa detik kurasa aku masih betah pada kegiatanku. Hingga sebuah deheman
keras membuatku tersadar lalu lantas
bangkit berdiri sambil menunduk seraya mengusap air mataku buru-buru. Ah, aku tidak ingin dia yang tahu kalau aku
barusan menangis.
“Ini,
usap pakai ini”. Aku melihat sebelah tangan mengulur ke depan wajahku yang
masih menunduk sambil memegang sapu tangan putih. Apa tadi dia melihatku menangis?
Aku lantas menampis
tangannya. “Nggak usah. Kamsahamnida” kataku seraya membungkuk badan dan saat
aku akan berbalik pergi tiba-tiba sebelah tanganku tertahan olehnya. Membuatku
kemudian membalikkan badan dan perlahan mengangkat kepalaku.
Sedetik
kemudian, mataku melebar kaget ketika tahu siapa ternyata yang berdiri di
hadapanku sekarang. “Seung Ho oppa?”.
Aku memastikan karena ku pikir mungkin ini hanya kesalahan penglihatanku saja
yang terlalu lama menangis. Tapi kemudian kulihat dia mengangguk pelan. Dan itu
membuktikan kalau dia memang Seung Ho. Yoo Seung Ho, si aktor itu!
Kalau saja saat ini kami sedang berada di
tempat yang tidak terlalu ramai. Aku pasti akan berteriak sekencang-kencangnya.
Omo...kalau kau berpikir aku mengikuti audisi supaya bisa kebetulan bertemu
dengan para aktor atau idol itu berarti kau salah besar. Aku sama sekali tidak
pernah menyimpan pikiran begitu.
“Hey,
kenapa melamun?” tanya Seung Ho seraya mengibaskan tangannya ke depan wajahku
beberapa kali dan setelah aku sadar ketika pikiranku sudah kembali aku langsung
mengatup mulutku cepat dan menggerak-gerakkan kepalaku –menormalkan
penglihatanku.
“Kau
bukannya yeoja di lift tadi, ne?”. Kurasakan panas di wajahku tatkala dia
mendekatkan wajahnya padaku –seperti sedang memeriksa apakah ada kotoran di
wajahku atau tidak- sambil menyipitkan kedua matanya. Saat dia melihatku yang
refleks menjauh, ia pun juga ikut menjauhkan wajahnya dariku. Uh, akhirnya aku bisa menghirup oksigen lebih
banyak....
“Waeyo?” tanyanya seraya
melipat tangannya ke depan dada dan masih menatapku penuh tanya. “Ne, kau itu
memang yeoja di lift tadi” timpalnya mengangguk-angguk seraya tersenyum padaku.
Mwo? Yeoja di lift? Bagaimana dia bisa...Omo!.
Aku memekik keras dalam hati bersamaan dengan mataku yang melebar kaget. Omo...Omo...jadi dia namja yang bertopi dan
berkacamata itu. Omo...jadi tadi aku satu lift dengan Yoo Seung Ho?.
Omo...kenapa aku tadi nggak menyadarinya. Pabo...pabo imnida.
“Lagi-lagi kau melamun lagi.
Tadi aku sedang menyamar dan saat aku ingin masuk kemari. Ternyata ada beberapa
wartawan yang menungguku di dekat gedung. Jadi tadi ketika aku turun mobil
mereka langsung mengejarku”. Aku hanya mengerjap-ngerjap mendengar penjelasan
tapi aku tidak tahu harus menjawab bagaimana.
“Oh
ya, ngomong-ngomong kenapa kau menangis tadi? Apa kau baru mengalami kejadian
buruk?”. Jleb. Ternyata benar tadi dia
memang melihatku menangis. Pabo kau Ha Neul....
Aku mendesah berat. “Ne, aku
gagal audisi tadi” jawabku pelan dengan nada sedih sambil menunduk. Ne, aku masih merasa sedih soal audisi
itu...
“Hey, apa kau sudah menyerah
begitu saja?” tanyanya sambil memegang kedua pundakku. Dan hal itu sukses
membuatku menegang.
Perlahan
aku mengangkat kepalaku lantas berusaha mencerna kata-katanya di sela-sela
keteganganku. Entah bagaimana aku membalasnya dengan gelengan.
“Kau
tahu, aku dulu juga pernah mengalami gagal. Aku berkali-kali gagal ketika
audisi dan casting. Jangan kau kira aku tidak mencobanya di semua agensi. Aku
sudah melakukannya tapi aku selalu gagal. Tapi aku tidak menyerah karena aku
tahu kalau suatu saat nanti pasti ada satu agensi yang akan menerimaku. Dan ternyata
aku benar. Ketika aku merasa ini yang terakhir kalinya aku mengikuti audisi
akhirnya mereka melihat bakatku dan menerimaku”.
Aku
menghembuskan napas pelan setelah mendengarnya. Rasanya lebih mudah mengatakannya daripada melakukannya oppa....
“Maksudku,
aku ingin kau berjuang lebih keras lagi. Setiap manusia dilahirkan dengan
bakatnya masing-masing dan jangan pernah menyerah sampai orang lain melihat
bakatmu itu”. Ucapannya diakhiri dengan senyuman manis bersamaan dengan kedua
matanya yang menyipit membentuk eye smile. Oh, aku hampir lupa Seung Ho oppa
terkenal dengan eye smile-nya dan aku tidak menyangka aku bisa melihatnya dari
dekat.
Perkataannya
seolah seperti vitamin baru untukku. Seketika aku merasa energi semangatku
terisi lagi. Dan sedetik kemudian, aku pun mengangguk tersenyum.
Tubuhku
seperti tersentrum saat dia menyolek ujung hidungku pelan. “Nah gitu dong. Kau
jadi terlihat cantik. Ah, aku harus pergi sekarang. Anyeong—“
“Ha
Neul. Kim Ha Neul imnida” sergahku cepat ketika dia mengernyitkan keningnya
heran.
“Ah
ne, anyeong Ha Neul-ssi. Hwaiting!!”. Sebelah tangannya terangkat ke udara
sembari tersenyum lebar sebelum dia berjalan pergi.
Aku
tersenyum singkat sembari membalikkan badan dan manatap punggungnya yang
semakin menjauh. Kata-katanya terngiang lagi di otakku.
Hawiting Ha Neul !!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar