Senin, 16 Januari 2017

UNEXPECTED MARRIAGE CHAP 1

Hai whats up?? 
Gue nulis lagi dengan korean romance story. Konfliknya sih lumayan lah. Tapi kayak judulnya 'marriage' so pasti tentang pernikahan. Eittt, tapi ini bukan tentang pernikahan yang lu bayangin. Ada kata 'unexpected' berarti nggak di duga-duga. Ayo apa maksudnya hahah

Oke....langsung aja. check this out....

read and commend ya, soalnya bagaimana pun juga gue masih penulis amatir yang masih butuh kritikan dan semacemnya. Okeee....bismillah....

~~
CHAP 1

                Aku menarik napas panjang untuk kesekian kalinya sebelum kedua kakiku menginjak di depan pintu kaca yang terbuka otomatis sebuah gedung tinggi yang bertuliskan besar CM Ent.

                Ku akui ini seperti mimpi tatkala kedua mataku mengedar ke sekelilingku dan menemukan bingkai-bingkai besar yang terpajang di dinding paling atas. Omo, cepat tampar wajahku kalau ini bukan mimpi....

                Satu per satu foto ku perhatikan lekat-lekat dan mendecak kagum setelahnya.

                Omo...Bagaimana aku bisa menjelaskan perasaanku pada mu sekarang kalau aku sedang berdiri di dalam gedung sebuah agensi  yang sudah  menciptakan idol-idol terkenal itu?

                Hampir saja aku akan meneteskan air mata  mengingat betapa besar perjuanganku hanya untuk menginjakkan kaki di tempat ini kalau aku tidak melihat jarum jam yang terpajang di lobby. Aku hampir lupa kalau audisinya sepuluh menit lagi....

                Segera aku berjalan ke bagian resepsionist. Disana duduk dua yeoja cantik di belakang meja setinggi satu meter. Yeoja pertama yang berpakaian blouse ungu muda sedang memilah-milah dokumen sementara yeoja satu lagi yang berpakaian blouse pink sedang menerima telfon. Daebak, padahal tugasnya hanya seperti itu tapi penampilan mereka...

                “Permisi, ada yang bisa saya bantu?”

                Aku terhenyak dari lamunanku dan menatap yeoja blouse ungu muda yang ternyata bertanya padaku.

                Malu-malu aku menyerahkan map cokelat padanya.

                “Oh, kau ingin mengikuti audisi ya? ruangannya ada di lantai tiga. Setelah keluar lift lalu belok kanan, di pintu ketiga dari lift. Hwaiting!”katanya tersenyum sambil mengarahkanku dengan sebelah tangannya.

                Aku lalu melangkah pergi ke lift yang berada di pojok kananku setelah membungkuk pada yeoja itu seraya mengucapkan terimakasih. Tidak lupa tadi aku mengulas senyum selebarnya.

                Ah, disinilah aku....inilah mimpiku sejak lama. Aku tidak naif kalau aku sangat ingin menjadi seorang aktris. Untuk itulah dua tahun lalu aku pergi ke Seoul untuk bekerja mengumpulkan uang dan menyewa tempat tinggal disini. Itu akan mempermudahkan ku untuk mengikuti audisi-audisi seperti ini.

                Ah ne...aku sampai lupa memperkenalkan diriku kan. Perkenalkan namaku Im Ha Neul. Mirip nama seorang aktris Kim Ha Neul kan? Ah aniyo, tentu saja aku tidak secantik dia dan aku juga tidak pernah bisa disandingkan dengannya. Itu karena eomma-ku sangat menyukainya. Mungkin itulah dulu alasan eomma-ku menamaiku sama sepertinya. Ada-ada saja eomma-ku....

                Ini bukan audisi pertamaku. Aku sudah pernah mencoba di tiga agensi sebelumnya. Tapi ini pertama kalinya aku mencoba audisi di salah satu agensi terbesar di korea Selatan. Deg-deg-an sudah pasti. Kira-kira berapa ya peluangku untukku bisa lolos? Ah aku tidak boleh memikirkannya. Pokoknya aku harus melakukan semaksimal mungkin. Hwaiting Ha Neul !!

                Aku mendongak melihat ke atas lift yang masih tertera angka enam dengan anak panah turun. Huftt...lama sekali. Padahal aku sedang terburu-buru. Tepat disaat itu, aku mendengar suara-suara berisik dari arah pintu masuk. Sontak aku berbalik dan mendapati banyak wartawan yang sedang mengerubuni seseorang. Eh?

                Keningku berdenyit, bertanya-tanya siapa dia?. Tapi setelah itu aku langsung bersikap acuh dan kembali pada kegiatanku sebelumnya. Lagipula wajar kalau ada hal seperti itu disini. Mungkin saja dia salah satu artis asuhan agensi ini. Tapi aku juga jadi sungguh kasihan padanya. Aku sampai membayangkan jika suatu hari nanti aku seperti itu, apa yang akan kulakukan ya?. Para wartawan itu begitu mengerikan, aku bergedik ngeri.

                Selang beberapa detik kemudian, pintu lift terbuka. Aku langsung melangkah masuk dan menekan angka tiga tatkala seorang namja berlari ke arahku sambil berseru menyuruhku menahan pintu lift. Aku pun melakukannya. Dengan sebelah tanganku aku memegangi pinggiran pintu lift. Mataku terbelalak kaget ketika ku tahu namja itu berlari sambil merangkul seorang namja di sebelahnya. Mendekat ke arahku bersamaan dengan flash-flash kamera dari para wartawan itu. Refleks aku langsung menutup wajahku dengan map cokelat yang ku pegang.

                Lalu entah ke detik berapa aku mendengar pintu lift sudah tertutup dan tidak ada suara berisik para wartawan itu. Aku lalu menurunkan tanganku perlahan dan penglihatan yang kudapat sekarang adalah dua orang namja yang berdiri membelakangiku. Aku memperhatikan tubuh mereka yang berpostur lebih tinggi dariku. Salah satunya berpakaian begitu fashionable dengan topi hitam yang bertengger diatas kepalanya.

                “Hyung, aku tidak ingin ada seperti itu lagi. Mereka terus menyodorku dengan pertanyaan yang bahkan belum sempat kujawab”. Dari nada suaranya bisa kutebak kalau dia sedang kesal.

                “Mau bagaimana lagi, kalau mau kau harus cepat mencari seorang yeoja supaya mereka tidak mengejarmu terus”

                Lama aku memperhatikan dua namja itu saling berbicara hingga salah satunya membalikkan badan dan memandang ke...arahku melalui kacamata hitamnya. Omo, aku hampir dibuat terkejut. Sepertinya dia baru menyadari keberadaanku di lift ini karena tadi aku sempat melihat sebelah alisnya naik. Lalu, kulihat sebelah sudut bibirnya terangkat ke atas. Glek. Aku menelan ludah keras. Dua orang namja dan satu yeoja di dalam lift kecil ini. Oh no....

                “Jeongmal mianhe. Kejadian tadi pasti membuatmu kaget kan? sekali lagi jeongmal mianhe”. Dia membungkuk di hadapanku. Lalu, namja di sebelahnya juga berbalik dan ikut membungkuk padaku setelah di senggol oleh nya. Bisa kulihat jelas wajah namja itu yang kutaksir dia adalah seorang ahjussi. Ah, aku jadi salah tingkah gini....

                Teng!

                Pintu lift terbuka, aku mendongak untuk memastikan aku benar berada di lantai tiga. Dan saat aku ingin melangkah keluar ternyata dua orang namja tadi juga ikut keluar. Ah jadi mereka juga ingin ke lantai tiga, pantas tadi aku tidak melihat mereka memencet angka lift.


                Mereka tidak mengatakan apapun setelahnya. Tapi aku sempat melihat namja bertopi itu berbalik dan tersenyum padaku sebelum pergi. Ku pandangi punggung mereka yang semakin menjauh dan menghilang ketika masuk ke sebuah ruangan. Aku masih berdiri diam di tempatku sampai aku sadar kalau aku harus segera bergegas pergi juga ke ruang audisi. Oh no.... aku harus cepat...Hwaiting, Ha Neul!, batinku berbicara  mantap seraya mengepalkan sebelah tanganku ke 
udara. 

...........

Pabo...pabo...pabo imnida....

                Aku menyumpahi diriku sendiri sambil menendang-nendang sebelah kakiku ke dinding pembatas di lantai tiga yang hanya setinggi setengah badanku. Aku kesal, kalau ditambah dengan tiga audisi ku yang gagal kemarin berarti ini sudah menjadi yang ke empat.

                Dan tanpa kusadari bulir bening  meluncur di kedua pipiku tatkala aku lantas jatuh berjongkok dan menyandarkan keningku ke dinding di depanku. Kedua tanganku menelungkup wajahku sembari meredam suara tangisku supaya tidak terdengar.

                Sampai beberapa detik kurasa aku masih betah pada kegiatanku. Hingga sebuah deheman keras membuatku  tersadar lalu lantas bangkit berdiri sambil menunduk seraya mengusap air mataku buru-buru. Ah, aku tidak ingin dia yang tahu kalau aku barusan menangis.

                “Ini, usap pakai ini”. Aku melihat sebelah tangan mengulur ke depan wajahku yang masih menunduk sambil memegang sapu tangan putih. Apa tadi dia melihatku menangis?

                Aku lantas menampis tangannya. “Nggak usah. Kamsahamnida” kataku seraya membungkuk badan dan saat aku akan berbalik pergi tiba-tiba sebelah tanganku tertahan olehnya. Membuatku kemudian membalikkan badan dan perlahan mengangkat kepalaku.

                Sedetik kemudian, mataku melebar kaget ketika tahu siapa ternyata yang berdiri di hadapanku sekarang. “Seung Ho oppa?”. Aku memastikan karena ku pikir mungkin ini hanya kesalahan penglihatanku saja yang terlalu lama menangis. Tapi kemudian kulihat dia mengangguk pelan. Dan itu membuktikan kalau dia memang Seung Ho. Yoo Seung Ho, si aktor itu!

                Kalau saja saat ini kami sedang berada di tempat yang tidak terlalu ramai. Aku pasti akan berteriak sekencang-kencangnya. Omo...kalau kau berpikir aku mengikuti audisi supaya bisa kebetulan bertemu dengan para aktor atau idol itu berarti kau salah besar. Aku sama sekali tidak pernah menyimpan pikiran begitu.

                “Hey, kenapa melamun?” tanya Seung Ho seraya mengibaskan tangannya ke depan wajahku beberapa kali dan setelah aku sadar ketika pikiranku sudah kembali aku langsung mengatup mulutku cepat dan menggerak-gerakkan kepalaku –menormalkan penglihatanku.

                “Kau bukannya yeoja di lift tadi, ne?”. Kurasakan panas di wajahku tatkala dia mendekatkan wajahnya padaku –seperti sedang memeriksa apakah ada kotoran di wajahku atau tidak- sambil menyipitkan kedua matanya. Saat dia melihatku yang refleks menjauh, ia pun juga ikut menjauhkan wajahnya dariku. Uh, akhirnya aku bisa menghirup oksigen lebih banyak....

                “Waeyo?” tanyanya seraya melipat tangannya ke depan dada dan masih menatapku penuh tanya. “Ne, kau itu memang yeoja di lift tadi” timpalnya mengangguk-angguk seraya tersenyum padaku.

                Mwo? Yeoja di lift? Bagaimana dia bisa...Omo!. Aku memekik keras dalam hati bersamaan dengan mataku yang melebar kaget. Omo...Omo...jadi dia namja yang bertopi dan berkacamata itu. Omo...jadi tadi aku satu lift dengan Yoo Seung Ho?. Omo...kenapa aku tadi nggak menyadarinya. Pabo...pabo imnida.

                “Lagi-lagi kau melamun lagi. Tadi aku sedang menyamar dan saat aku ingin masuk kemari. Ternyata ada beberapa wartawan yang menungguku di dekat gedung. Jadi tadi ketika aku turun mobil mereka langsung mengejarku”. Aku hanya mengerjap-ngerjap mendengar penjelasan tapi aku tidak tahu harus menjawab bagaimana.

                “Oh ya, ngomong-ngomong kenapa kau menangis tadi? Apa kau baru mengalami kejadian buruk?”. Jleb. Ternyata benar tadi dia memang melihatku menangis. Pabo kau Ha Neul....

                Aku mendesah berat. “Ne, aku gagal audisi tadi” jawabku pelan dengan nada sedih sambil menunduk. Ne, aku masih merasa sedih soal audisi itu...

                “Hey, apa kau sudah menyerah begitu saja?” tanyanya sambil memegang kedua pundakku. Dan hal itu sukses membuatku menegang.

                Perlahan aku mengangkat kepalaku lantas berusaha mencerna kata-katanya di sela-sela keteganganku. Entah bagaimana aku membalasnya dengan gelengan.

                “Kau tahu, aku dulu juga pernah mengalami gagal. Aku berkali-kali gagal ketika audisi dan casting. Jangan kau kira aku tidak mencobanya di semua agensi. Aku sudah melakukannya tapi aku selalu gagal. Tapi aku tidak menyerah karena aku tahu kalau suatu saat nanti pasti ada satu agensi yang akan menerimaku. Dan ternyata aku benar. Ketika aku merasa ini yang terakhir kalinya aku mengikuti audisi akhirnya mereka melihat bakatku dan menerimaku”.

                Aku menghembuskan napas pelan setelah mendengarnya. Rasanya lebih mudah mengatakannya daripada melakukannya oppa....

                “Maksudku, aku ingin kau berjuang lebih keras lagi. Setiap manusia dilahirkan dengan bakatnya masing-masing dan jangan pernah menyerah sampai orang lain melihat bakatmu itu”. Ucapannya diakhiri dengan senyuman manis bersamaan dengan kedua matanya yang menyipit membentuk eye smile. Oh, aku hampir lupa Seung Ho oppa terkenal dengan eye smile-nya dan aku tidak menyangka aku bisa melihatnya dari dekat.

                Perkataannya seolah seperti vitamin baru untukku. Seketika aku merasa energi semangatku terisi lagi. Dan sedetik kemudian, aku pun mengangguk tersenyum.

                Tubuhku seperti tersentrum saat dia menyolek ujung hidungku pelan. “Nah gitu dong. Kau jadi terlihat cantik. Ah, aku harus pergi sekarang. Anyeong—“

                “Ha Neul. Kim Ha Neul imnida” sergahku cepat ketika dia mengernyitkan keningnya heran.
                “Ah ne, anyeong Ha Neul-ssi. Hwaiting!!”. Sebelah tangannya terangkat ke udara sembari tersenyum lebar sebelum dia berjalan pergi.

                Aku tersenyum singkat sembari membalikkan badan dan manatap punggungnya yang semakin menjauh. Kata-katanya terngiang lagi di otakku.


Hawiting Ha Neul !!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar